21 June 2017

DICARI!!! Buzzer Bodoh!

Apa yang anda fikirkan ketika sebuah akun yang tidak jelas asal-usulnya, latar belakang keahliannya berdebat dengan sebuah akun yang diketahui dibelakangnya adalah seorang pakar pada bidang Hukum misalnya? Tentu akan terlihat konyol.

Lebih konyol lagi, akun ini ada disetiap isu dan berdebat dengan banyak pakar. Seolah-olah dialah pakar yang sebenarnya dalam banyak bidang. Dengan pakar hukum ia berdebat soal hukum, dengan pakar politik ia berdebat politik, dengan pakar bidang drone ia berdebat tentang teknologi drone, bahkan dengan Ulama sekalipun berani berdebat soal agama.


Adakah akun seperti ini? Ada. Konyol memang. Tetapi bodohkah ia? Tentu terlalu naif jika kita sebut bodoh. Akun seperti ini adalah akun "penyuplai" bagi akun-akun pendukungnya. Ia menyuplai isu apa yang akan diangkat untuk "memenangkan" pertarungan dalam opini di sosial Media.

Sanggahan dan serangan dalam sebuah opini tidak selalu mengenai salah dan benar. Ini seakan jadi prinsip utama dalam bermain opini di sosial media. Cukup yang rajin mengulang-ulang kata-kata yang sama dan memunculkan terus menerus disetiap kesempatan!

Karena itulah dibutuhkan banyak buzzer "bodoh" untuk menjalankan misinya. Buzzer "bodoh" ini akan membuat biaya dan tenaga menjadi lebih efisien dan efektif. Tidak perlu banyak orang atau Buzzer pintar yang akan menguras banyak biaya dan energi. Cukup beberapa orang "pintar", selebihnya hanya butuh orang yang pura-pura pintar.

Maka jangan heran ketika kita menemukan kata-kata yang selalu diulang-ulang seperti, "Jika merasa benar kenapa takut pulang". Atau dalam masa Pilkada DKI beberapa waktu lalu, "Jangan pilih calon yang didukung ormas radikal" yang anehnya mereka gunakan untuk menyerang Agus Yudhoyono sekaligus mereka gunakan lagi untuk menyerang Anies Baswedan.

Strategi ini memang sangat jauh berbeda dengan yang diterapkan oleh rival mereka seperti Muslim Cyber Army (#MCA), Jempol Rakyat (#JR) dan aliansi serta partisan lain yang tidak tergabung dalam keduanya. Mereka terlihat lebih "smart" mengolah isu dan mematahkan banyak argumen dengan cara yang cerdik. Tapi mengapa seringkali kalah dalam membentuk opini atau membantah opini yang "bodoh" sekalipun?

Kembali lagi soal kebenaran itu, mungkin saatnya melawan "dominasi" isu mereka dengan cara yang mereka gunakan. Melawan dengan cara menggunakan kata-kata yang berulang-ulang, di share dibanyak kesempatan hingga terekam dalam alam bawah sadar manusia hingga menjadi kebenaran. Tentunya dengan sanggahan kebenaran yang hakiki.

Jadi, sering-seringlah menshare postingan yang sama berulang-ulang. Postingan yang pernah diposting teman, share kembali, berikan caption yang sama disela-sela waktu luang.

Sesekali jadilah "Bodoh" tanpa mempedulikan seberapa besar anda terlihat "konyol" sambil tetap memperlihatkan kelas anda dilain waktu membuat Kultwit atau twit-twit ringan yang cerdas dan cadas.

Share this

0 Comment to "DICARI!!! Buzzer Bodoh!"

Post a Comment