02 March 2017

Kerinduan itu...

Adakah sambutan antusia yang meriah seperti saat ini?

Dijalan-jalan berjejer penyambutan seolah tak berujung dari tempat-tempat yang dilalui oleh Raja Salman. Ibu-ibu, bapak-bapak, remaja putra dan putri, bahkan anak-anak hadir memberi penghormatan luar biasa dengan bendera yang selama ini tampaknya terlalu "haram" untuk dikibarkan.

Euforia ini bahkan telah tampak jauh sebelum pesawat megah sang penjaga Kota Suci mendarat mulus di Bumi Pertiwi. Segala persiapan untuk menyambut bukan hanya dilakukan otoritas penguasa, bahkan rakyat "mencuri" kesempatan untuk ikut menjadi bagian.

Kami bukan sekedar menyambut sang Raja. Bukan sekedar ikut bersuka cita...

Ada kerinduan yang dalam tentang momen kebangkitan Islam. Kami sedang merindukan suara-suara yang akan jadikan semangat bagi perjuangan. Kami terluka, dan obat yang kami rindukan itu hanya cukup satu patah kata. Satu saja!

Ada pengharapan setelah putus asa yang amat panjang. Bahwa rezim ini akan terus-menerus menekan dan mengebiri keadilan terhadap Islam dan gerakan dakwahnya. Kami marah, dan kemarahan kami terpenjara oleh kecintaan kami terhadap kesatuan dan persatuan negri ini.

Ada ketidakberdayaan...

Di Rezim yang keterlaluan ini, semua yang bertentangan dengan Islam mendapat fasilitas yang menyegarkan. Sehingga mereka berani muncul secara terang-terangan.

Di jaman ini, mereka melakukan penghinaan bukan lagi lewat sindiran-sindiran halus sambil ketakutan akan akibat yang bakal ditimbulkan. Tapi mereka begitu vulgar melakukannya tanpa lagi takut akan segala resiko yang terjadi.

Mereka seakan punya hak prerogatif untuk bebas dari jeratan hukum dan setiap kekejian mereka tenggelam cukup dengan permintaan maaf. Akibatnya, mereka seakan punya amunisi lebih dan lebih untuk melakukannya berulang-ulang dan berulang-ulang!

Kami bukan sekedar menyambut Sang Raja. Tapi kami sekarat...

Kami butuh sekedar udara segar dari kebijakan sang Raja untuk keluar dari bencana besar ini! Kami menunggu bagaimana kedatangan Khadim Alharamain dapat menekan dan berpengaruh pada sikap politik penguasa terhadap Islam di bumi pertiwi.

Kami mungkin sekedar buih dilautan. Tapi buih itu telah bersatu dan menyatu menjadi bagian benteng kekuatan, setidaknya untuk bertahan. Meski harus diakui sebagian kecil terhempas dengan ombak kekuasaan. Menjadi penjilat dan mencari keuntungan...

Tapi kami siap ketika semua memberi kekuatan. Kami menunggu sedikit udara segar. Untuk menjemput saat yang kami tunggu-tunggu itu. Saat dimana musuh-musuh terlalu gentar bahkan untuk sekedar nyinyir. Tak seperti saat ini, bahkan menista dapat panggung, bebas berkeliaran dan menaiki kendaraan mewah RI Satu.

Dan Sang Raja menjadi bagian penting bagi kami untuk bersiap diri.

Kami rindu...