17 June 2014

Penyebab Runtuhnya Bangunan dalam Tahap Pengerjaan

Akhir-akhir ini setidaknya ada dua bangunan yang runtuh atau ambruk pada saat pengerjaan. Gedung pertama yaitu sebuah stadion di Koja, Jakarta. Dan yang kedua sebuah ruko di Menado.

Tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi kita? Bagaimana sebuah bangunan yang direncanakan dengan baik, bisa hancur pada saat pembangunan dilaksanakan.

Ada beberapa pihak yang terkait dalam pembangunan sebuah gedung. Pertama; Owner atau pemilik bangunan. Pemilik bangunan ini adalah pemilik modal atau pengguna bangunan. Kedua; Arsitek atau perencana bangunan. Arsitek merancang bangunan sesuai keinginan pemilik modal.

Ketiga; Perencana Struktur. Perencana struktur membuat dan mendisain struktur bangunan sesuai dengan desain bangunan, kondisi lahan dan teknologi yang ada.

Keempat adalah pengawas dan pelaksana; pengawas dan pelaksana ini bertugas memastikan bangunan yang dikerjakan sesuai gambar dan jadwal, sesuai spesifikasi, dan mengambil keputusan lain di proyek.

Dan terakhir, tentu para pekerja proyek yang terdiri dari mandor, kepala tukang, tukang dan kenek.

Pada bangunan seperti stadion dan ruko ini, jelas  bahwa kelas bangunan yang dikerjakan termasuk katagori sederhana sampai dengan sedang dalam skala proyek. Kerumitan pekerjaan dan struktur juga termasuk sederhana. Oleh karena itu, tanpa bermaksud membela siapapun, maka menurut saya sebagai seorang Arsitek yang melaksanakan pembangunan gedung setipe atau sekelas bangunan tersebut, kita bisa mengabaikan faktor perencanaan. Baik perencana desain atau Arsitek, maupun Insinyur Sipil.

Pengalaman saya dalam hal ini, Teknik pengerjaan di lapangan perlu diperhatikan dengan tepat. Pengawas dan pelaksana harus benar-benar mengerti gambar dan kondisi lapangan. Dan para Insinyur, setidaknya mereka perlu mengadakan pengawasan juga ke lapangan guna mengindari kesalahan pelaksanaan.

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yang bisa membuat bangunan yang dalam tahap pengerjaan runtuh atau ambruk:

1. Target waktu

Target waktu adalah hal yang paling sering membuat pekerja, pengawas dan pelaksana banyak melakukan kecerobohan. Hendaknya meski setiap proyek pasti memiliki progres, target waktu harus dibuat sesuai standar dan masuk akal.

Owner, atau pemberi tugas harusnya tidak tergesa-gesa dan mendesak pengerjaan kelar secepat mungkin. Dan para pembuat progres juga harus mempertimbangkan benar-benar sesuai desain, bahan, kondisi lapangan, dll.

2. Kekuatan Stut dan bekisting

Stut, atau penyangga dan bekisting adalah faktor utama untuk membentuk struktur bangunan. Sebagai penyangga terutama saat pembetonan, fungsi tiang-tiang dan rangka ini berpengaruh besar pada keamanan pengerjaan. Jika kurang kuat, baik karena jumlah maupun kualitas bahan maka nukan tidak mungkin kecelakaan terjadi pada saat pengerjaan cor beton.

3. Faktor kebekuan beton

Beton kita ketahui akan membeku atau mengering sempurna di umur 3 minggu sejak penuangan. Pada proyek-proyek kejar tayang, bisa saja lebih cepat dari itu dengan menggunakan obat tertentu.

Nah, disinilah masalahnya, terkadang, karena mengejar waktu dan menghemat biaya, beton yang belum kering sempurna dibuka bekistingnya pada saat belum waktunya. Ditambah lagi pembebanan pada bagian atasnya, jika masih ada lantai berikutnya.

4. Pengetahuan tentang struktur

Pengetahuan tentang struktur, perlu dipahami bukan hanya oleh insinyur, pengawas dan pelaksana. Tapi juga harus dipahami oleh mandor dan tukang di lapangan.

Jika tidak, maka kejadian yang berakibat ambruknya bangunan mungkin saja terjadi. Pengetahuan seperti pembesian, extra besi untuk tumpuan dan lapangan, penyambungan, kualitas beton sampai pada kekentalan cairan beton perlu diketahui. Dengan demikian, maka tukang dapat bekerja maksimal untuk mengurangi kerusakan pada bangunan

Demikian analisa sederhana saya, mudah-mudahan berguna.