11 November 2013

Permasalahan Jakarta... ya gitu... gitu aja!

Bicara tentang Jakarta, seujug-ujug ya gitu-gitu aja! Macet, banjir, pedagang kaki lima, transportasi massa dan masyarakat yang tidak tertib. Lah, kalo gak kenal Jakarta yang dari dulu memiliki segudang permasalahan mbo ya jangan jadi pemimpin di Jakarta.

Kritik tentang permasalahan Jakarta terhadap 'kegagalan' Gubernur-gubernur sebelumnya juga bajir bak air bah yang menggenangi Jakarta beberapa tahun lalu. Dan kalo mau jujur, isu ini yang 'dijual' oleh calon Gubernur-gubernur berikutnya termasuk Jokowi. Bahkan dengan santai Jokowi menyebut permasalahan ini sebagai "permasalahan gampang..."

Kita sebagai penghuni dan sebagian lagi beraktifitas di Jakarta, yang mungkin punya mimpi terlalu tinggi dengan Jakarta yang tidak macet, tidak banjir, tidak ada pedagang kaki lima, masyarakatnya tertib. Hingga kita selalu melemparkan sumpah serapah kepada setiap Gubernur yang ternyata 'gagal' (pakai tanda petik) memuaskan ambisi kita.

Konon datanglah putra bumi pertiwi itu, yang senyum bersahaja, walikota terbaik dunia (konon), rajin blusukan, dan merakyat. Dengan senyum menawan Jokowi hadir dengan perkasa dan membuat janji-janji dengan meyakinkan bahwa dirinya  mampu membenahi Jakarta... "Masalah Jakarta itu GAMPANG..."

Dengan satu dua 'gebrakan' yang ternyata tidak pernah dijalankan, Jokowi beraksi dengan ide "GANJIL GENAP", Monorel, denda yang tinggi untuk pelanggar ruas busway (aturan yang ternyata juga melanggar aturan), memperbanyak armada busway, dll...


Satu tahun pemerintahan Jokowi memang bukan waktu yang lama untuk menilai kinerja seseorang pemimpin, tapi satu tahun dengan kondisi "stag" juga hal yang wajar untuk bertanya; "Dia sudah lakukan apa?". Tanpa perlu melihat hal itu berhasil atau tidak, seorang pemimpin perlu melangkah  maju, seorang pemimpin harus menjadi "pemberani" dalam membuat kebijakan publik.

Seperti saya tulis pada pembukaan diatas, sebenarnya tidak apa jika Gubernur Jakarta tidak 'berhasil' membenahi Jakarta karena kompleksnya permasalahan Jakarta. Tapi baru kali ini saya menemui seorang Gubernur yang menyalahkan macetnya Jakarta karena pertumbuhan jumlah kendaraan, masyarakat yang tidak tertib, tidak didukung oleh pemerintah pusat. Baru kali ini saya menemukan pemimpin Jakarta yang mengeluhkan beberapa hal yang sebenarnya sudah diketahui sejak dulu. Justru inti permasalahan kemacetan harus diselesaikan dari akarnya, dan mencari jalan untuk bisa mencabut akarnya. Kalau berharap supaya tidak ada pertumbuhan jumlah kendaraan, masyarakat tertib, didukung pemerintah pusat, itu sama saja berharap tidak ada permasalahan. Mungkin jika demikian keadaannya, anak SD juga bisa menjadi Gubernur DKI. Maaf Jok...

Hebatnya, baru kali ini 'penggemar' Gubernur mengamini 'keluhan' sang Gubernur. Saya bertanya-tanya, mungkinkah mereka juga menemukan bahwa Gubernur terdahulu juga sebenarnya berkualitas bagus seperti Jokowi, hanya saja tidak didukung pemerintah pusat, masyarakatnya tidak tertib, pertumbuhan jumlah kendaraan yang besar... wah, jangan-jangan mereka pengkritik yang gemar membunuh karakter Gubernur sebelumnya dengan alasan yang sama, tetapi beda penilaian ketika Jokowi berkuasa.

Jujur, takut rasanya berdiskusi tentang permasalahan Jakarta saat ini di sembarang tempat. Sekali bicara, dianggap anti Jokowi. Padahal, dulu sangat bebas bicara tentang kemacetan Jakarta, banjir, pedagang kaki lima, dan permasalahan-permasalahan lain. Kesan yang saya dapat, Jokowi tidak pernah salah, dan tidak patut dikritik apalagi dipermasalahkan.

Dan tentang mobil murah itu, kalian salah besar bung. Mobil murah tidak serta merta membuat 'orang-orang miskin' mampu membeli mobil. Yang membeli tetaplah orang-orang kaya! Jikapun dengan menabung puluhan tahun dapat membeli mobil murah itu, 'orang-orang miskin' hanya akan membeli satu buah mobil. Satu buah!! Lalu dipermasalahkan sebagai biang kemacetan! Padahal bukan rahasia, bahwa orang-orang kaya-lah yang memiliki mobil 'berjubel'. Satu untuk istri, satu untuk dirinya, masing-masing satu untuk anak-anaknya, satu mobil operasional untuk pembantu ke pasar, dan beberapa buah mungkin untuk 'selingkuhannya'... Please, tutup alasan untuk mobil murah ini dengan menyalahkan orang miskin, yang nyatanya tidak mampu membeli mobil! Sebagai orang miskin, saya sungguh tersinggung... :-)

Silakan bekerja Jok, silakan benahi Jakarta! Jangan salahkan pertumbuhan jumlah kendaraan, jangan salahkan masyarakat yang tidak tertib, jangan salahkan pemerintah, jangan salahkan orang miskin. Bekerjalah dari hati, ambil manfaat dari blusukan anda kepada rakyat kecil, untuk membantu mereka. Pendukungmu sudah terlalu besar yang bersemangat menjadikanmu besar, jangan menjadi kerdil hanya karena kebijakanmu satu-satu mentok lalu menyalahkan masalahnya. Lawan masalahnya, selesaikan masalahnya, itu baru pemimpin! Hidup Jokowi Ahok!!!