26 February 2013

BODONG

Bingung juga saya dengan pengertian kata ini; BODONG. Sewaktu kecil, yang saya tahu BODONG adalah kondisi dimana puser "nonjol" keluar, dan saya termasuk salah satu yang (berpusar) BODONG!

Terus saya mendengar istilah motor BODONG. Nah, apa motor punya puser? Ternyata diartikan untuk motor yang nggak punya surat-surat. Nggak nyambung, kalo mau dipaksain juga mungkin kalo kita pake motor yang nggak punya surat-surat selalu ketakutan dan membuat puser kita menonjol, alias BODONG... hahaha...

Kemaren, saya baca kritikan terhadap JOKOWI yang disebut punya prestasi BODONG. Loh, apa puser JOKOWI nonjol? Nggak mungkin, perut JOKOWI kan langsing?

Ternyata BODONG nya JOKOWI soal KLAIM sebagai Walikota Terbaik SEDUNIA! Karena ternyata pemilihannya juga baru ditentukan bulan OKTOBER. Lagi pula, Mayor Foundation yang disebut sebagai penyelenggara juga bukan Institusi bergengsi. Dan pertimbangannya pun bukan berdasarkan prestasi, tapi pollling macam Indonesian Idol! Walah, semoga pak Jokowi nggak semakin BODONG pusernya denger kenyataan ini! Begitu juga loyalisnya... hahaha -lagi- (Semoga pendukungnya gak ikut-ikutan BODONG pusernya baca tulisan ini!). Ayo, semangat JOK! Buktikan di Jakarta ente nggak pakai jurus prestasi BODONG! Jangan berlama-lama terbuai dengan MEDIA, mentang-mentang Media Darling... hahaha...

Karena saya udah acak-acak pengertian BODONG, sekalian aja saya pengen bilang kalo Rieke Diah Pitaloka juga punya (puser) BODONG! Bayangin, demi ambisinya, Rieke dan pendukungnya bawa DATA BODONG untuk mengelabui masyarakat! Jelas terlihat ketika Debat Kandidat Cagub dan Cawagub Jawa Barat di TVOne. Semua data yang dibawa dengan menilai buruk prestasi AHER ternyata terbantahkan oleh AHER sendiri... Duh, kalo calon pemimpin BODONG begini, jangan-jangan Jawa Barat jadi BODONG juga... Huft, untung nggak ...

Sebaliknya, prestasi seorang Gubernur Jawa Barat yang Dramatis dengan 92 penghargaan malah dianggap BODONG! Aneh. Padahal, penghargaan adalah indikasi dan fakta keberhasilan. Dan kasihan sekali Institusi yang mengeluarkan penghargaannya dianggap BODONG.

Ada yang lebih lucu di sebuah forum terkenal semacam KASKUS, entah memang yang komen orang-orang BODO(H)NG atau pura-pura BODO(H)NG! Masa baca prestasi dibilang "PANTESAN YANG NGASIH PENGHARGAAN DINAS NYA SENDIRI", trus ditambah ketawa "HAHAHA...". BODO(H)NG kan? ITU YANG DAPET PENGHARGAAN DINASNYA bung! Dinasnya! Yang ngasih penghargaan Pemerintah INDONESIA! Hahaha ... (Sekarang saya yang harus ketawa).

Hah, udah ah. Bicara Bodong entar puser saya jadi ikut Bodong! Mending cari info yang BETUL, ketimbang berita-berita BODONG dari stasiun-stasiun TV yang dimiliki Ketua-ketua Partai... Macam ARB (TVOne dan ANTV) dari GOLKAR, Surya Paloh (MetroTV) dari NASDEM, Harry Tanoesudibyo (RCTI) sekarang di HANURA, dijamin makin BODONG aja beritanya... HAHAHA (kembali saya ketawa)...

25 February 2013

(Akhirnya) KPK Berhasil di Gagahi

Ada yang aneh ketika saya melihat wawancara Johan Budi, juru bicara KPK ketika diwawancara TV One tentang status hukum Anas Urbaningrum. Johan Budi yang biasanya "gagah" sejalan dengan kegagahan KPK ketika menentukan status tersangka seseorang, saat itu keliihatan "galau" dan sama sekali tidak kelihatan "gagah". Bahkan, KPK yang biasanya PEDE, kali ini bersikap "cengeng". Lebih aneh lagi dalam akhir wawancaranya, Johan Budi mengatakan bahwa penetapan tersangka Anas Urbaningrum ini bisa saja KPK salah, karena itu kita lihat saja di Pengadilan. Lebih lanjut, KPK melalui Johan Budi mengatakan untuk menjunjung azas praduga tak bersalah terhadap Anas Urbaningrum. Ini hal yang aneh, se ujuk-ujuk, saya tidak pernah mendengar pernyataan ini dalam setiap penentuan status tersangka seseorang oleh KPK. Yang pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa KPK berhasil di "Gagahi".

Sebelumnya, kita tahu bahwa KPK selalu Pede dengan segala keputusannya. Bahkan, pada peristiwa Mochtar Muhammad (Mantan Walikota Bekasi dari PDI Perjuangan) yang diputuskan tidak bersalah, KPK dengan gagah "menguber" Mochtar Muhammad hingga ditingkat banding akhirnya diputuskan bersalah. Begitu pula KPK dengan gagah melakukan penangkapan langsung kepada Bupati Buol yang saat itu dilindungi oleh beberapa pengawalnya.

Kita juga dipertontonkan kegagahan KPK saat melindungi Novel Baswedan yang saat itu akan diangkut oleh pihak kepolisian karena kasus pembunuhan. Ini peristiwa patriotik dimana KPK melindungi bawahannya dengan cara "pasang badan", yang akhirnya membuat Kepolisian terpaksa "gigit jari" pulang dengan tangan hampa. Hingga sekarang Novel Baswedan bebas "berkeliaran" karena perlindungan KPK, bahkan Novel diketahui salah satu petugas KPK yang menggiring LHI.

Peristiwa yang terbaru, dalam kasus penangkapan LHI. Kita lagi-lagi dipertontokan kegagahan KPK dengan menangkap LHI walau dengan banyak ke-aneh-an, karena kita tahu, bahwa KPK tidak "berhasil" menangkap tangan LHI. Tapi dengan dalih "Tertangkap Tangan" yang bukan "tertangkap tangan", KPK dengan "Gagah" tetap keukeh bahwa penangkapan LHI telah sesuai prosedur.

KPK juga dengan sigap akan bereaksi kepada setiap statement yang dianggap tidak benar atau merugikan KPK. KPK dengan lantang membantah ketika dianggap penangkapan LHI terkait KONSPIRASI, begitu pula ketika KPK disebut lembaga politis. Tapi lagi-lagi KPK (akhirnya) berhasil digagahi ketika loyalis Anas Urbaningrum menyebut adanya KONSPIRASI dalam penangkapan Anas. Lagi-lagi KPK terlihat pasrah tanpa perlawanan ketika keputusannya dianggap dipengahuri oleh kekuatan dari luar. KPK benar-benar seperti anak gadis ceria yang "galau". KPK jadi bulan-bulanan dan benar-benar Impoten dihadapan loyalis Anas. Padahal, tuduhan konspirasi adalah tuduhan serius yang layak dilawan oleh KPK.

Salahkah jika akhirnya saya berkesimpulan, bahwa KPK (akhirnya) berhasil di Gagahi?

16 February 2013

Geramnya Kasus Impor Daging Sapi

Mendengar kasus korupsi, siapa yang tidak geram? Anda geram, saya geram. Tapi Kasus Impor Daging Sapi ini memang sangat spesial, karena yang tersangkut di dalamnya adalah sebuah partai yang dikenal bersih oleh masyarakat.

Bila anda berprasangka buruk, itu hak anda. Tapi jika saya berprasangka baik, itu juga terserah saya! Bila saya kenal dengan adik saya atau teman saya yang berprilaku baik, saya akan langsung menolak bila dia dijerat peristiwa kejahatan, itu wajar saja. Tapi bila anda tidak tahu siapa yang anda tuduh, lalu beramai-ramai menghujat, itu sama sekali tidak wajar!

Itu kegeraman saya! Saya geram karena kasus ini terasa tidak adil bagi saya, dan mungkin bagi sebagian orang (yang peduli dengan kebenaran, tentunya). Bila anda orang yang rajin menghujat, terserah anda untuk terus menghujat sampat kebenaran terbukti (dan tentunya anda akan terus menghujat, kasus Misbakun; siapa yang gentlemant untuk meminta maaf karena dari mulutnya sudah keluar kata-kata kotor? Tidak ada!).

Saya geram karena tanpa tahu permasalahan, banyak orang yang sudah merasa "tahu" (sok tahu, lebih pantas). Saya geram karena kita telah banyak "kehilangan" putra-putra terbaik dan berkah bagi bangsa ini karena ke "sok tahu" an kita serta hujatan dan caci maki. Ingat Suripto, yang di "hajar" dengan kasus pembelian helikopter, ingat pula Rama Pratama yang di "tenggelamkan" oleh kasus korupsi yang tidak jelas. (Rama Pratama adalah Penggerak Mahasiswa UI yang akhirnya melengserkan Suharto, ingat bahwa pada saat itu mahasiswa negeri adalah Mahasiswa yang "patuh" dengan pemerintah, dan Rama Pratama adalah "pembangkang" pemerintah dan mengambil resiko untuk bergabung bersama rakyat!).

Saya bukan kader PKS, bahkan pada beberapa tulisan saya, saya sempat mengkritisi partai ini. Tapi bagaimanapun, tidak ada Partai yang lebih baik dengan kasus yang (bila anda ingin mengganggap ini kasus) lebih sedikit dibanding Partai lain. Sayangnya, Partai ini memang bukan media darling, sehingga kebaikannya tidak menjadi berita baik, tapi -sedikit- keburukannya menjadi berita yang menghebohkan. Meski PKS harus tetap berbangga, sebab sebuah -maaf- t*i di tempat sampah memang tidak pernah menarik perhatian dibanding setitik noda dilantai bersih!

Kegeraman saya akan hanya jadi cemooh bila saya tidak menyertakan alasan, okelah. Bila anda ingin menghujat juga tulisan ini, jawab beberapa point yang saya sebutkan di bawah ini:

Tertangkap Tangan? 

Literatur mana yang menyebutkan pengertian tertangkap tangan adalah seorang A menerima uang, dan akan menyerahkan pada B, dan B adalah orang yang tertangkap tangan? Sebutkan teori mana yang bisa menyebukan LHI tertangkap tangan.

Ini jelas kebohongan besar. Sayangnya kebohongan besar itu diamini oleh pengamat dan narasumber, media, dan KPK. Saya jamin, tidak akan ada yang bisa menyebut teori bahwa LHI tertangkap tangan! Selain hanya berbelit bahwa "Kita memegang 2 alat bukti yang cukup". Bersyukurlah anda, sebab Ahmad Fathanah menyebut LHI untuk duit yang dia terima. Bagaimana kalau dia menyebut Anda, saudara Anda, orang tua Anda!

Dan sangat wajar jika kemudian saya berfikir bahwa LHI memang menjadi target! Entah itu target konspirasi atau apalah! Karena hanya dengan teori "TERTANGKAP TANGAN" maka KPK bisa langsung menahan LHI!

Apa Kepentingan Suap Terhadap LHI

Sekarang saya kembali bertanya, apa kepentingan pelaku suap menyuap LHI? Alasan kewenangannya bisa menekan Menteri dari PKS adalah alasan yang tidak masuk akal bagi saya!

Bila saya adalah menteri yang anda ingin untuk melakukan sesuatu, anda tentu akan memilih untuk langsung menyuap saya ketimbang menyuap ketua partai saya! Ini pilihan yang paling LOGIS, ketimbang harus menyuap si A untuk menekan si B!

Sebab menyuap 2 orang adalah upaya yang lebih beresiko ketimbang menyuap satu orang! Biar saya perjelas: "Bila menyuap 1 orang PKS adalah SULIT, maka menyuap 2 orang PKS adalah LEBIH SULIT!". Dan hanyalah orang-orang bodoh, lebih tepatnya penyuap yang bodoh untuk keluar duit lebih banyak dan resiko yang lebih besar untuk menyuap banyak orang!

Dan penyuap (atau penuduh) yang bodoh pula menyuap seorang yang tidak punya kewenangannya terhadap impor daging sapi. Sampai disini, jika keadilan ditegakkan di pengadilan maka banyak orang akan kecele karena ternyata Menteri Pertanian Suswono SAMA SEKALI tidak punya kewenangan untuk "mengotak-atik" impor daging sapi! Silakan anda mengotak-atik juga masalah kewenangan ini dengan membaca dan mempelajari, silakan pula anda yang doyan mencaci maki untuk mengotak-atik otak kotor anda untuk menambah cacian anda!

Konspirasi?

Sebenarnya, sudah banyak sekali petinggi PKS yang menyebutkan "keanehan" kasus LHI, mereka bahkan sudah capek dan menyerahkan semua kepada sang Khalik. Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wani'man nasir.

Padahal betapa berbahayanya negeri ini bila sebuah kekuatan mampu untuk menunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang harus ditangkap dan siapa yang bisa dikatakan "belum cukup bukti". Betapa bahayanya  bila ada sebuah kekuatan super power  yang bisa menangkap orang seenaknya, bisa menghalangi polisi untuk menangkap pelaku kejahatan, bisa mengatur polisi agar tidak ikut campur terhadap peristiwa kriminal seperti bocornya rahasia negara.

Saya tidak akan bicara konspirasi yang saya tidak tahu asal-usulnya. Tetapi konspirasi yang jelas terjadi adalah konspirasi oleh Media dan Pengamat. Itu jelas terjadi, dan jelas membuat saya geram!

Media, membuat kasus "tertangkap tangan" kepada LHI menjadi sebuah kebenaran, bahkan sebagian media mengarahkan LHI tertangkap disebuah hotel bersama M, astagfirullah! Betapa besar keinginan media untuk membuat buruk seorang ustadz seperti LHI.

Dan dalam beberapa kesempatan, media mengarahkan LHI sebagai pesakitan tanpa ada yang berupaya untuk menahan "moncongnya" terhadap prasangka "tidak bersalah" sebelum bukti-bukti pengadilan membenarkannya.

Para pengamat dan narasumber pun tidak berbeda jauh. Konspirasi untuk membuat cap "TERTANGKAP TANGAN" dan cap "BERSALAH" terhadap LHI didengungkan. Padahal mereka adalah orang-orang pintar yang mengerti apa itu "Tertangkap Tangan" dan Presumption of Innocence. Maka jika orang-orang pintar seperti mereka mengabaikan hal itu, tentu saja orang-orang bodoh akan lebih nikmat untuk berkoar dan mencaci maki. 

Lebih terlihat lagi konspirasi pengamat ini adalah ketika pengamat sekelas Profesor Tjipta Lesmana dengan berapi-api menyebut "KEJANGGALAN" pada penangkapan LHI, dan menyebut KPK dengan sebutan lembaga Politis di hari pertama LHI tertangkap. Bahkan Tjipta Lesmana menyebut penangkapan LHI aneh dan sebagai upaya menutupi kasus besar (lebih jelas baca DISINI). Tapi beberapa hari kemudian sang Profesor luluh bahkan keceplosan bahwa ia sempat disindir sebagai "juru bicara PKS". Dalam beberapa hari selanjutnya Tjipta Lesmana ikut dalam barisan konspirasi pengamat dan narasumber untuk satu suara membenarkan prilaku KPK. 

Sebenarnya, banyak yang ingin saya tulis karena ke-geraman saya terhadap kasus impor daging sapi ini. Tetapi saya cukupkan saja sebagai protes saya dengan banyaknya caci maki dan hujatan yang tidak jelas! Saya tidak ingin membela PKS, karena saya bukan kader PKS. Sejujurnya saya memang simpatisan, dan simpati saya untuk partai yang tidak pernah di expos terhadap banyak "manfaat" yang sudah diberikan untuk bangsa ini, dan tiba-tiba menjadi bom atom media ketika bahkan masalah "sekecil" gambar porno yang belum jelas juga asal-usulnya. 

Dan ingatlah, ketika anda ingin menghitung kasus LHI sebagai kasus korupsi, maka kader PKS adalah partai yang paling sedikit sekali terkena kasus ini, belum lagi jika LHI tidak terbukti, maka kader PKS tidak ada yang terlibat kasus korupsi SAMA SEKALI, yang ada hanyalah tuduhan-tuduhan terhadap Misbakun, Soeripto, Rama Pratama, bahkan Neneng Nurbaeti yang bukan kader PKS disangkut-pautkan hanya karena Adang Dorojatun sang suami adalah kader PKS. 

Dan ingat pula ketika anda ingin "membunuh" partai yang tergolong bersih ini, anda membunuh cita-cita anda sendiri terhadap munculnya politikus-politikus yang bersih dan santun. Artinya, tanpa mengabaikan banyaknya orang-orang bersih di partai lain, setiap partai adalah aset, dan orang baik adalah aset, politikus bersih adalah aset yang tentunya banyak bertebaran di banyak partai, dan PKS adalah salah satunya! 

Ingat pula ketika anda menyebut Kasus Sapi Berjanggut, anda telah mencemooh terhadap agama Islam, yang mungkin merupakan agama anda sendiri. Dan kalau itu terjadi, betapa menyedihkannya anda!