31 March 2012

Kisah Tersembunyi Menjelang Kenaikan BBM

Mr. Presiden sedang melakukan pidato Kepresidenan:

Presiden:
"Saudara-saudara, inilah hal yang tersulit dilakukan oleh seorang presiden. Bagaimanapun, tidak ada presiden yang mau menaikan harga BBM..."
"Presiden-presiden terdahulu, baik masa Presiden A, Presiden B kita tahu, bahwa kenaikan harga BBM adalah jalan terakhir yang harus di tempuh ketika terjadi defisit anggaran..."
"Dan kenaikan harga BBM adalah yang berat dan menyedihkan bagi saya..."

Presiden pun terdiam. Para wartawan yang hadirpun menunggu. Mr. Presiden, tampak begitu sedih. Tiba-tiba, Mr. Presiden ke belakang sambil di ikuti para Bodyguard-nya yang tampak tergesa-gesa.

Bodyguard:
Ada apa Mr. Presiden?

Presiden:
Mana si Boim?

Sang Bodyguardpun cepat memanggil si Boim. Setelah sampai di hadapan presiden, Boim pun kena semprot...

Presiden:
Im...Im... gemana seh loh? Udah gua bilang, bawangnya yang pas! Kemaren waktu konpres curhat tentang ancaman bawangnya kurang, sekarang juga kurang! Gimana gua bisa keluar air mata?

Boim: 
Bukan salah saya pak Presiden, harga bawang kan naek gara-gara bapak gembar-gembor mau naikin harga BBM.

Presiden: 
Walah dalah... Im...im..sekarang gua nggak mau tahu, 5 menit lagi bawangnya harus ada. Ngerti!

Boim: 
Ba..baik pak!

Kata Boim sambil ketakutan (secara presiden yang bentak, gitu loh...)
Presiden bergegas kembali ingin ke konpres, tapi baru beberapa langkah Boim memanggil.

Boim: 
Pak Presiden, ma..af. Berapa banyak bawang yang harus saya beli?

Presiden: (sambil melotot)
Boim... Boim, lemot banget seh loh! Pokoknya gua nggak mau tahu, mau beli se truck kek, yang penting 5 menit lo harus ada di sini.

Presiden kembali bergegas. Bodyguardnya ikut melotot ke Boim yang ketakutan.

Di konpres, presiden melanjutkan pidatonya.

Presiden: 
Jadi begitulah saudara-saudara, saya sedih... sedih sekali...

Baru lima menit, sang bodyguard berbisik kepada sang presiden...

Bodyguard: 
Pak, bawangnya udah di beli Boim... 1 truk...

Presiden:
What!  Masya Allah, Boim... dasar O'on...berapa anggaran yang dia abisin cuma untuk beli bawang (kata presiden dalam hati). Mana harga bawang lagi mahal...

Lalu sang presiden pun menangis tersedu-sedu di arena konpres karena si Boim sudah ngabisin duit dia untuk beli bawang se truk...  

Di Istana, para wartawan ikut menangis melihat presiden bersedih. Begitu pula pemirsa yang melihat siaran langsung. Para pendemo, yang tadinya berteriak-teriakpun ikut menangis. Di DPR, sidang paripurna ikut terhenti karena semua anggota DPR menangis. Suasana duka menyelimuti seantero negeri. Bagi mereka, sang Presiden terlihat begitu peduli pada rakyatnya...

Berita menyedihkan seorang kepala negara yang menangis karena peduli pada rakyatnyapun sampai keluar negeri, tak kurang 40 kepala negara ikut menyampaikan bela sungkawanya, termasuk Mr. Barak Orama presiden negara adidaya.

Atas jasa-jasanya, Boim di anugerahi bintang jasa...

28 March 2012

BBM Naik; Kenapa Harus Demo?

Maaf aja kalo anda nggak sependapat dengan saya. Saya pernah melakukan demo, sewaktu menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur, untuk menjatuhkan Dekan. Begitu juga demo sewaktu menjatuhkan rektor. Sekarang saya bertanya kepada anda, apa gunanya bagi anda? Apa gunanya demo bagi rakyat yang anda perjuangkan? Dan apa gunanya bagi pemerintah?

Serius, karena bagi anda yang berdemo, anda hanya menghabiskan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Lalu bila anda adalah seorang kepala keluarga, sudahkan anda mencari sarapan untuk anak dan istri anda esok hari? Sudahkah resiko dikeluarkan dari pekerjaan karena anda membolos sudah anda fikirkan?

Lalu bagi rakyat yang anda perjuangkan, adakah hasil yang bermanfaat? Maaf, tanpa mengecilkan. Tapi anda belum menghasilkan apa-apa. Toh, BBM tetap saja naik. Beberapa demo yang anda perjuangkan juga tidak menghasilkan harapan yang memuaskan. Hasil yang nyata kelihatan adalah macetnya jalan-jalan. Sudahkah anda juga mempertimbangkan berapa kerugian masyarakat yang katanya anda perjuangkan itu? Sudah pulakah anda pertimbangkan berapa banyak masyarakat yang ketakutan karena aksi-aksi yang seharusnya tidak perlu terjadi, seperti pembakaran ban bekas, dan aksi-aksi lainnya. Sudah jugakah anda pertimbangkan berapa banyak toko-toko, warung, hotel, supermarket yang harus tutup atau setidaknya menjadi sepi pengunjung? Wuih, begitu banyak daftar panjang yang seharusnya juga anda pertimbangkan!

Bagi pemerintah sendiri? Tidak berarti apa-apa selain jalan-jalan keluar negeri dan menyiapkan sekelompok prajurit yang sebenarnya adalah rakyat juga untuk berhadapan dengan para pendemo!

Ini wajah negeri ini bung! Ibaratnya jika anda tidak setuju dengan orang tua, tentu anda hanya bisa protes tanpa harus membunuh orang tua anda! Dan jika saya boleh jujur, demo-demo yang dijalankan sudah mengarah pada anarkis dan hilang kendali. Benar! Untuk apa anda menyegel SPBU? Untuk apa anda merebut truk tangki bahan bakar? Untuk apa anda memblokir jalan? Untuk apa anda memaksa orang lain untuk ikut berdemo?

Pemerintah yang sekarang adalah pemerintahan sah yang anda pilih sendiri! Kenapa anda tidak pertimbangkan itu ketika melakukan pemilu? Saya cuma berfikir simple. Saya juga bukan pendukung pemerintahan saat ini. Bagi saya, ketika pemerintahan SBY membuat kebijakan yang salah, tinggal blacklist pemerintahannya bahkan bila perlu partainya dan saya tidak perlu memilih kembali SBY beserta antek-anteknya.

Tapi yang terjadi apa? Setelah demo bentrok-bentrokan dengan aparat, anda sendiri (mungkin) kemudian akan bentrok-bentrokan dengan rakyat ketika kampanye membela mati-matian partai anda dan kecurangan-kecurangan yang dilakukan.

Kembali tentang pengalaman demo yang saya lakukan, percayalah; ada kepentingan di setiap gerakan. Ada gerakan lain yang anda tidak ketahui, karena anda sibuk dengan yel-yel anda. Ada yang diam-diam mengambil keuntungan dibalik aksi, dan tentu saja bukan masyarakat! Karena nyatanya, masyarakat tidak merasa diuntungkan dengan demo yang anda lakukan. Tidak percaya? Kenapa anda tidak melakukan riset sebelum demo? Karena jawabannya pasti akan mengecewakan anda..

Maaf...