17 August 2011

Dalil Melaksanakan Tahlilan atau Selamatan

Banyak dari kita mengadakan selamatan dan tahlilan. Tapi tahukah anda dalil yang dipergunakan untuk mengadakannya? Selamatan biasanya dilaksanakan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus, mendak pisan, mendak pindhok, nyewu.

Menurut Ustadz Abdul Aziz dalam Videonya, saya mencoba mencari dalilnya meski sebagian tidak saya temukan (maklum, saya mencari hanya dengan browsing di Internet) Berikut dalil selamatan:

Dalam kitab
Mahanarayana UPANISAD;
Umat Hindu mengenal dua jenis Yadnya yang disebut dengan istilah:
  1. Nitya Karma Yadnya.
    Yaitu Yadnya yang diselenggarakan/ dilaksanakan tiap- tiap hari.
    Contoh: Tri Sandhya, Memberi suguhan Yadnya Sesa (Ngejot/ Saiban).
  2. Naimittika Karma Yadnya.
    Yaitu Yadnya yang diselenggarakan pada waktu- waktu tertentu.
    Contoh: Upacara Persembahyangan Purnama Tilem, selamatan, Hari Raya, dan sebagainya.

Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan :“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.”


Sama Veda 373 ayat 1 “Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.
Artinya : “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”.

Maka dimanakah kita menemukan dalil dalam Hadist kita? Bahkan ustadz Abdul Aziz menantang untuk memberikan Hadist yang Dhoif sekalipun. Dan saya tidak bisa menemukan tantangan sang Ustadz.

Dalil yang saya tanyakan atau diterangkan dalam setiap tahlilan paling-paling saya menemukan alasan sebagai berikut:

"Kebiasaan ini (tahlilan) adalah kebiasaan baik, karenanya sangat dianjurkan". Benarkah? Tapi pada ceramah lain, alasan ini menjadi mentah. Apakah setiap yang baik pasti benar (atau boleh) dalam sebuah ibadah? Contohnya bacaan ruku dengan bacaan Al Fatihah, mana yang lebih baik? Tapi apakah lantas kita akan mengganti bacaan ruku dengan surah Al Fatihah?

Alasan lain, diterangkan bahwa selamatan (tahlilan) adalah salah satu adat istiadat atau kebiasaan orang Indonesia. Sebuah adat istiadat dimungkinkan dilaksanakan. Seperti halnya kebiasaan memakai celana Jean, mengendarai Mobil, dll.
Sekali lagi saya bertanya, benarkah? Lalu bila itu merupakan sebuah adat atau kebiasaan, mengapa menjadi anti pati terhadap orang yang tidak melaksanakannya? Mengapa menjadi begitu menganggap hal tersebut adalah kewajiban yang harus dilaksanakan? Dan menganggap orang yang tidak melaksanakannya bukan muslim yang baik?

Saya tidak bermaksud apa-apa, selain mengajak memurnikan ajaran Islam. Bila anda orang melaksanakannya, mungkin ada benarnya anda melaksanakannya sebagai sebuah adat atau kebiasaan yang baik. Dengan tetap menganggapnya bukan sebuah ibadah dan bukan keharusan (kewajiban), apalagi menganggap orang yang tidak melaksanakannya sesat.

Wallahu'alam



Catatan David Usman Headline Animator

Di Beli Limbah Komputer dan Elektronik

Anda Punya Barang Komputer dan Elektronik yang Rusak/Jadul/Terbakar/Terendam Banjir yang tidak terpakai? Tenang saja, disini barang tersebut masih kami hargai. Kilik link di Gambar untuk keterangan lebih lanjut...

Followers