ADS 468x60

davidusman.blogspot.com

Pages

17 Agustus 2011

Dalil Melaksanakan Tahlilan atau Selamatan

Banyak dari kita mengadakan selamatan dan tahlilan. Tapi tahukah anda dalil yang dipergunakan untuk mengadakannya? Selamatan biasanya dilaksanakan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus, mendak pisan, mendak pindhok, nyewu.

Menurut Ustadz Abdul Aziz dalam Videonya, saya mencoba mencari dalilnya meski sebagian tidak saya temukan (maklum, saya mencari hanya dengan browsing di Internet) Berikut dalil selamatan:

Dalam kitab
Mahanarayana UPANISAD;
Umat Hindu mengenal dua jenis Yadnya yang disebut dengan istilah:
  1. Nitya Karma Yadnya.
    Yaitu Yadnya yang diselenggarakan/ dilaksanakan tiap- tiap hari.
    Contoh: Tri Sandhya, Memberi suguhan Yadnya Sesa (Ngejot/ Saiban).
  2. Naimittika Karma Yadnya.
    Yaitu Yadnya yang diselenggarakan pada waktu- waktu tertentu.
    Contoh: Upacara Persembahyangan Purnama Tilem, selamatan, Hari Raya, dan sebagainya.

Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi : “Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan :“Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu.”


Sama Veda 373 ayat 1 “Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.
Artinya : “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”.

Maka dimanakah kita menemukan dalil dalam Hadist kita? Bahkan ustadz Abdul Aziz menantang untuk memberikan Hadist yang Dhoif sekalipun. Dan saya tidak bisa menemukan tantangan sang Ustadz.

Dalil yang saya tanyakan atau diterangkan dalam setiap tahlilan paling-paling saya menemukan alasan sebagai berikut:

"Kebiasaan ini (tahlilan) adalah kebiasaan baik, karenanya sangat dianjurkan". Benarkah? Tapi pada ceramah lain, alasan ini menjadi mentah. Apakah setiap yang baik pasti benar (atau boleh) dalam sebuah ibadah? Contohnya bacaan ruku dengan bacaan Al Fatihah, mana yang lebih baik? Tapi apakah lantas kita akan mengganti bacaan ruku dengan surah Al Fatihah?

Alasan lain, diterangkan bahwa selamatan (tahlilan) adalah salah satu adat istiadat atau kebiasaan orang Indonesia. Sebuah adat istiadat dimungkinkan dilaksanakan. Seperti halnya kebiasaan memakai celana Jean, mengendarai Mobil, dll.
Sekali lagi saya bertanya, benarkah? Lalu bila itu merupakan sebuah adat atau kebiasaan, mengapa menjadi anti pati terhadap orang yang tidak melaksanakannya? Mengapa menjadi begitu menganggap hal tersebut adalah kewajiban yang harus dilaksanakan? Dan menganggap orang yang tidak melaksanakannya bukan muslim yang baik?

Saya tidak bermaksud apa-apa, selain mengajak memurnikan ajaran Islam. Bila anda orang melaksanakannya, mungkin ada benarnya anda melaksanakannya sebagai sebuah adat atau kebiasaan yang baik. Dengan tetap menganggapnya bukan sebuah ibadah dan bukan keharusan (kewajiban), apalagi menganggap orang yang tidak melaksanakannya sesat.

Wallahu'alam



Baca juga yang ini



22 komentar:

Bin Hakim mengatakan...

mmg ini butuh pengkajian yang lebih dalam krn hampir seluruh ummat Islam di Indonesia (kecuali Muhammadiyah) msh melakukan praktek ini.

Kalo menurut hemat sy sih, nggak apa2 asaal jgn bercampur dgn kemusyrikan

erieqcious mengatakan...

Maaf, saya mau bertanya..
kalo boleh saya tanya, kapan waktu yg baik untuk mendoakan saudara kita? apa hari jumat? apa hari selain hari ke-7, hari ke-100 setelah kematiannya? apa setiap harikah (termasuk hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu) waktu terbaik untuk mendoakan saudara kita? tentu setiap hari bukan?

sekali lagi saya bertanya, siapa yg anti pati terhadap orang yang tidak melaksanakan tahlilan atau selamatan? siapa pula yg anda sebut mewajibkan pelaksanaan tahlilan?

lalu, kenapa anda menganggap tahlilan bukan sebuah ibadah? apa anda tau apa definisi ibadah? bukankan ibadah adalah sesuatu yg dilaksanakan dg diniatkan kepada Allah? selamatan adalah suatu kegiatan membaca tahlil & doa yg dilakukan secara berjamaah. Dan kalaupun di jaman nabi tidak ada pembacaan tahlil secara berjamaah, apa berarti membaca tahlil secara berjamaah itu bukan ibadah? apa itu haram?

David Usman mengatakan...

wah banyak juga nih pertanyaan (maaf; atau cibiran...semoga bukan)mas Enriqcious. Pertanyaan pertama saya setuju dengan mas Enriqcious, tentu saja tidak dibatasi orang untuk berdoa tidak juga dengan hari kesekian dan kesekian...
Kalau mas bukan orang yang antipati terhadap yang tidak melaksanakan tahlil, alhamdulillah. Tapi jangan pula terlalu menutup mata akan adanya sekelompok lain yang mencibir bahkan mencaci sebagian yang memiliki pendapat yang berbeda dengan yang melaksanakan tahlil. Maaf, jangan bilang kelompok itu tidak ada.
Ketiga, itu pendapat anda dan saya menghargai. Setiap kita memiliki pandangan berdasar ilmu dan lingkungan yang kita dapat. Saya tidak berdebat soal ibadah dan tidak. Tapi, tulisan saya tentang ibadah Budha yang kita "adopsi" ke dalam "Ibadah" kita. Apakah anda akan menyebutnya ibadah? Silakan...

erieqcious mengatakan...

kalau boleh saya tanya, mana ibadah hindu/budha yg kita adopsi? apakah dalam selamatan atau tahlilan ada kegiatan yg dilaksanakan untuk memuja shiwa/brahma/wisnu?

adanya sebagian kelompok yg mencibir & antipati thd kelompok lain yg tidak melaksanakan tahlilan, sulit rasanya dilepaskan dari artikel/pendapat yg seperti anda tuliskan, adanya klaim "mengkafirkan" (menganggap umat muslim lain melaksanakan ibadah budha/hindu). :)

Kampung harapan mengatakan...

1. Opini apa aja diperbolehkan... saya mengamalkan tahlil tapi ga pernah seperti yang anda maksud dengan menganggap yang tidak tahlil itu salah. dengan catatan selama mereka ga menyerang amalan saya dengan klaim2 seperti yang anda maksud. bebas aja broooooooo.. monggo
2. kalo mau mengkritisi tahlil, tolong pelajari dulu lebih dalam apa itu makna tahlil dan apa syariat yang mendasari, hakikatnya juga.Pelajari dulu lebih dalam apa itu makna ibadah.
3. dzikrulloh itu ibadah. tolong buktikan bacaan mana dari tahlil yang tidak berisi dengan dzikrulloh.
4. tentang kritik, saya amati yang paling sering rewel/menyerang mempermasalahkan tahlil adalah orang2 yang anti tahlil. lebih sedikit orang yang mengamalkan tahlil yang menyerang orang yang tidak mengamalkan tahlil.
5. semoga anda mau lebih membaca lagi... dan lebih dewasa dalam beragama.

David Usman mengatakan...

Insya Allah, semoga kita sama-sama orang yang bisa lebih dewasa... terima kasih atas kritiknya juga mas...

Kampung harapan mengatakan...

Ahamdulillah... atas komentar Anda. Saya, Anda dan kita semua semoga menjadi lebih dewasa dalam beragama. Terima kasih juga atas opininya, ternyata mampu membuka gerbang yang membatasi perbedaan kita dalam beragama dengan cara yang lebih santun.

Kitab Al-Hawiy li al-Fatawa,Jalaluddin Abdurrohan al-Suyuthi juz 2 hal. 178 yg terjemahnya:
Imam Thawus berkata: seorang yg mati akan mndpt ujian dlm kuburnya selama 7 hari. untuk itu sebaiknya mereka (yg masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut......sampai kata2 dari sahabat Ubaid ibn Umair,beliau berkata: seorang mukmin dan seorang munafik sama2 menerima ujian dlm kubur. Bagi orang mukmin akan mendapat ujian selama 7 hari,sedang orang munafik mendapat ujian selama 40 hari di waktu pagi.

Kitab Nihayah al-Zain Firsyad al-Mubtadi'in karya Muhammad bin Umar bin Ali an-Nawawy,al-Banteny hal. 57 terjemahnya:
Dan shodaqoh untuk mayit dg cara syar'i itu diperlukan dan tidak diabatasi dg 7 hari atau lebih atau lebih sedikit dan tidak dibatasi dg beberapa hari dari hari2 kematiannya. Sebagaimana sayyid Ahmad Dahlan befatwa : "Telah menjadi kebiasaan manusia shodaqoh untuk mayit pd hari ke 3 dari kematian,hari ke 7,hari ke 20, hari ke 40, hari ke 100 dan setelah itu setiap tahun dari hari kematiannya. Sebagaimana juga didukung oleh Syekh Sunbulawainy.

Anonim mengatakan...

SUDAH BACA KITAB2 NI BLM... KOK DAH BILANG GAK KETEMU....
1. Lihat Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150.
2. Lihat ; Minhajuth Thalibin lil-Imam an-Nawawi [hal. 193].
3. Lihat ; Tafsirul Qur’an al-‘Adzhim li-Ibni Katsir (7/465).
4. Lihat : Niyahatuz Zain fiy Irsyadil Mubtadi-in lil-Syaikh Ibnu ‘Umar an-Nawawi al-Jawi [hal. 162]
5. lihat Shahih Muslim (1631), Ibnu Majah [3660], Musnad Ahmad [8540] dan ad-Darimi [3464].
6. Lihat : Fathul Mu’in bisyarhi Qurrati ‘Ain, al-‘Allamah Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari [hal. 431].
7. Lihat : I’anatuth Thalibin li-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/256].
Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajith Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari [w. 926 H] (2/23).
Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/72].
Lihat : Mughni al-Muhtaj, Imam Syamsuddin al-Khatib as-Sarbini [4/110].
Lihat : as-Sirajul Wahaj ‘alaa Matni al-Minhaj lil-‘Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]
Lihat : Futuhatul Wahab lil-Imam Sulaiman al-Jamal (Hasyiyatul Jamal) [4/67].
Shahih Muslim no. 1672 ( Bab sampainya pahala shadaqah dari mayyit atas dirinya) dan no. 3083 (Bab sampainya pahala
shadaqah kepada mayyit), dalam bab ini Imam Muslim mencantum beberapa hadits lainnya yang redaksinya mirip ; Mustakhraj Abi ‘Awanah no. 4701.
Lihat ; Syarah Shahih Muslim [3/444] Imam Nawawi
Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.

Anonim mengatakan...

YANG MEMBEDAKAN IBADAH DAN ADAT ATAU IBADAH UMAT LAIN ADALAH 'NIAT' BUKA ARBAIN NAWAWI HADITS PERTAMA
juga baca kitab2 ini, baru bikin opini;
1. Lihat Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150.
2. Lihat ; Minhajuth Thalibin lil-Imam an-Nawawi [hal. 193].
3. Lihat ; Tafsirul Qur’an al-‘Adzhim li-Ibni Katsir (7/465).
4. Lihat : Niyahatuz Zain fiy Irsyadil Mubtadi-in lil-Syaikh Ibnu ‘Umar an-Nawawi al-Jawi [hal. 162]
5. lihat Shahih Muslim (1631), Ibnu Majah [3660], Musnad Ahmad [8540] dan ad-Darimi [3464].
6. Lihat : Fathul Mu’in bisyarhi Qurrati ‘Ain, al-‘Allamah Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari [hal. 431].
7. Lihat : I’anatuth Thalibin li-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/256].
Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajith Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari [w. 926 H] (2/23).
Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/72].
Lihat : Mughni al-Muhtaj, Imam Syamsuddin al-Khatib as-Sarbini [4/110].
Lihat : as-Sirajul Wahaj ‘alaa Matni al-Minhaj lil-‘Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]
Lihat : Futuhatul Wahab lil-Imam Sulaiman al-Jamal (Hasyiyatul Jamal) [4/67].
Shahih Muslim no. 1672 ( Bab sampainya pahala shadaqah dari mayyit atas dirinya) dan no. 3083 (Bab sampainya pahala
shadaqah kepada mayyit), dalam bab ini Imam Muslim mencantum beberapa hadits lainnya yang redaksinya mirip ; Mustakhraj Abi ‘Awanah no. 4701.
Lihat ; Syarah Shahih Muslim [3/444] Imam Nawawi
Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.

okegaoke mengatakan...

@anonim, saya sudah baca, tapi dimana yang menyebutkan harus mengadakan selamatan/kenduri/tahlilan/yasinan hari ke 1,3,7,dst?

bacaan tahlil, yasin itu bagus, tp tahlilan, yasinan tidak ada dasarnya (dlm kaidah bahasa, tahlil tidak sama dgn tahlilan, yasin tdk sama dgn yasinan). malah kasihan sekali kalau selamatan kematian itu diwajibkan (dilihat dari kondisi real saat ini) dan jika tdk mengadakan menjadi aib, dikampung2 orang sampai berhutang untuk mengadakannya, masa mau beramal sampai ngutang??

Anonim mengatakan...

assalamualaikum

kalau saya ada tahlilan di kampung ya berangkat,, kalau shalat ied di lapangan,,,
karena saya berkeyakinan kelak yang ditanya itu adalah, apa agamamu,,, bukan apa agamamu??lalu apa aliranmu??? hehe

wassalamualaikum

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum

yang melaksanakan tahlilan ya silahkan dan yang tidak ya silahkan. ini hanya permasalahan keyakinan aja. sungguh sangat salah apabila orang yang bertahlilan itu dianggap sesat.
apabila ada yang minta dalil tentang tahlilan harap jangan tanya orang yang awam atau ikut2an tahlilan. tapi tanyalah ulamanya/ustadznya... karena ulama-ulama terdahulu menjalankan kebiasaan ini juga karena ada dsarnya.
jika sekali lagi ditanya mana dalilnya. sungguh pukul saja kepala orang yang minta-minta dalil. emangya sudah berapa ratus ribu hadist yang dia hapal? apakah mereka hanya ikut buku-buku? blog2?
biarpun belajar dari ustadz atau ulama atau guru itupun harus pada guru yang mempunyai sambung/sanad pada Rasulullah..
sudahlah.. biarkanlah tahlilan itu tetap ada dan jangan sampai ada yang saling memaki. musuh diluar islam sangatlah banyak.. kita harus bersatu padu untuk melawannya...
ISlam is the best..

Wassalamualaikum

Anonim mengatakan...

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Assalaamu'alaikum wahai saudara-saudaraku semuslim dan seiman yang Insya Allah diberikan rahmat, karunia serta bimbingan-Nya.

Berbicara masalah Tahlilan dan Selamatan, memang agak sensitif sekali karena menyangkut masalah akidah dan keyakinan individu masing-masing, yang tentu saja bersandar kepada dalil baik Al-Qur'an, Hadits maupun pendapat dari para ulama.

Dalam artikel diatas, kita tidak menemukan dalil yang disertakan dari penulis baik dari Al-Qur’an, Hadits maupun para ulama tetapi berdasarkan pendekatan-pendekatan mengenai tata cara ibadah non muslim yang bisa jadi tata cara ini sudah menjadi tradisi yang pada akhirnya tata cara inipun dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia. Tentu saja tata cara yang digunakan adalah tata cara menurut Islam.

Dalam masalah ini, saya beranggapan bahwa lebih cenderung kepada uraian penulis namun kiranya ada beberapa tambahan melalui pendekatan Al-Qur’an. Dengan anggapan ini bukan berarti pula anti pati terhadap tahlil dan selamatan karena itu merupakan suatu keharusan bagi setiap umat muslim yang beriman, namun yang menjadi alasannya adalah soal “tata cara” ketika melakukannya. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa anggapan ini tidak serta merta menjustifikasinya, karena kebenaran hanyalah milik Allah.

An-Nisaa`:059
Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Beberapa hal yang mendasari anggapan pribadi ini adalah berdasarkan firman Allah SWT :

Al-Fushshilat:026
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quraan ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka".

Al-A`raaf:204
Dan apabila dibacakan Al Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Al-Ahzab:041
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

Al-Ahzab:042
Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.

Al-Ahzab:043
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Al-A`raaf:205
Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai.

Al-Israa`:110
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".

Demikian dulu anggapan saya, mohon maaf apabila ada perkataan yg kurang berkenan.

Wassalaamu’alaikum..

-Andri73-

Ibnuchusain mengatakan...

ABDUL AZIZ bukanlah MANTAN PENDETA HINDU,tp dia ketua MTA malang....sangat disayangkan. kalau banyak umat islam yg terkecoh dgn mulut manisnya....semoga ALLOH swt,segera menyadarkanya

Ahmad Ainun Naim mengatakan...

tulisan dari KH Nuril Huda di http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/10/8595/Ubudiyyah/Do__8217_a__Bacaan_Al_Qur__8217_an__Shadaqoh___Tahlil_untuk_Orang_Mati.html
cukup logis/rasional..tautan dalil Naqli yg dilambari dalil nalar kuat..

abdullah abu faiq Abu mengatakan...

Diantara penggugur islam setelah syirik adalah menganggap ajaran selain ajaran Rosululloh lebih sempurna.Baiklah kita lebih baik menghindar dari amalan syubhat(Halal/Haram.atau soheh /maudhu,)Saudaraku se islam,Apakah tidak ada ajaran Rosululloh selain tahlilan dan marhabanan? Jelas pasti semua org islam akan jawab BANYAK SEKALI,Kita tau Tahlilan ,Marhabanan,penghususan ziaroh kubur 1000 kilo,Rajaban,bahkan Halal bihalal dengan campur aduk antara laki prempuan yang bukan muhrimnya,bahkan sambil merokok dan di musikin,Wahai saudaraku Inilah yg perlu di jauhi karna ini merupakan selain ajaran Rosululloh saw,maaf semua ahl bid,ah pasti akan terusik bila amalan tersebut di pertanyakan apalagi di hapus munkin kita akan di usir atau di golok.

Mujadid Perdana mengatakan...

Pesan Nabi,berpegang teguhlah pada sunnahku dan qur'an.dalam hal ibadah vertikal kita tidak boleh menmbah atau mengurangi.Ingatlah bahwa"kalo memang tahlilan itu baik dan dianjurkan semestijya para sahabatpun melakukannya.sekali lagi, tahlil ada dasarnya.tapi kalo tahlilan seperti yg terjadi di masyarakat mohon dikaji lagi.saya yakin,jika pendidikan kita makin tinggi,tidk taklid maka akan faham dgn sendirinya.jadi sudahlah.kasihan jgn didebatin terus

Bagus IrenG mengatakan...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Cuma mau ikut urun rembug...

Yang tahlilan monggo
yang tidak tahlilan ya monggo...

Tapi jangan membid'ah bid'ahkan sesama muslim yang lain dan yang beda pendapat dengan kita karena justru gak ada dalil dan haditsnya hal tersebut dan justru itulah sesungguhnya perbuatan bid'ah tersebut karena tidak pernah dicontohkan Rosulullah,astaghfirullah...

Ilmu manusia bagai setitik ujung jarum di tengah lautan dibanding ilmu Allah,jadi kalau belum Ahli Qur'an atau Ahli Hadits janganlah menuduh sesama muslim itu bid'ah,musyrik,kafir dll...
Kalau cuma baru bisa baca terjemahannya saja terus MALAH MENAFSIRKAN dari TERJEMAHANNYA sendiri secara bebas tanpa merujuk pada para ULAMA di bidangnya,ya jangan langsung membid'ah bid'ahkan sesama saudara Muslim,sungguh semua perkataaan dan tindakan akan dipertanggungjawabkan di HADAPAN ALLAH SWT kelak,bertaubatlah...

Maaf jika kurang berkenan,hanya sekedar saling mengingatkan...
Jika ada yang salah mohon maaf karena keterbatasan ilmu saya...

Allahu'alam

Al fakir hamba Allah

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

David Usman mengatakan...

Walaikumusalaam, den Bagus...

Tidak ada yang tidak berkenan. Memang sedikit ilmu yang ane miliki. Aku bertobat atas dosa yang aku perbuat, atas ilmu yang sia-sia dan atas kekurangan serta keterbatasan.

Bismillahirrahmanirrahiim.

Dengan banyaknya tulisan ini, jadi banyak yang bisa kita pelajari dari semua komentar. Semoga, kita bisa mengambil hikmah dan hidayah-Nya.

Sampaikanlah meski satu ayat. Demikian Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita. Dengan satu ayat "Iqro" maka Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalaam menyampaikan tentang kedatangan Agama yang di Ridhoi. Dengan Satu ucapan Sahadat, para sahabat juga menyampaikan kebenaran Islam bahkan berjihad di jalan Allah.

Semoga besarnya ilmu tidak membuat kita lupa bahwa kita adalah 'pendakwah-pendakwah' yang di beri tanggung jawab menyampaikan apa yang hak dan apa yang batil.

Dengan besarnya ilmu semoga kita tidak lupa bahwa permasalahan umat jauh dari sekedar tahlil atau bukan. Tapi 'kelenaan' dengan semangat 'pesta', 'riya', dan semangat2 euforia lainnya.

'Keterlenaan' itu bahkan melupakan masalah pokok. Bahwa setiap muslim harusnya mengerjakan sholat,zakat, infak, mengaji, dan hal-hal lain yang seharusnya dikerjakan.

Berdoa yang diharusnya menjadi tanggung jawab anak-anaknya kadang jadi lalai dikerjakan karena sudah di "lelang" kepada 'pemborong', sementar itu, para ahli waris sibuk bermain 'gaple'.

Para ibu yang seharusnya sibuk dengan memikirkan 'mati' bercanda di dapur dan sibuk ke pasar untuk mempersiapkan acara.

Dan para ustadz serta petinggi mushalla sibuk menghitung berapa besar 'amplop' yang akan diterima. Masya Allah...

Mudah2an ini kekhawatiran saya saja melihat hal demikian yang terjadi di depan mata. Bila anda bukanlah orang yang saya lihat, maka maafkanlah saya.

Jika anda mengerjakan dengan niat karena Allah, maka luruskanlah niat anda.

Semoga saya dan anda mendapat ampunan dan hidayah Allah.

Kembali, dengan sedikit ilmu yang saya miliki, saya bertobat atas segala perkataan saya yang buruk. Semoga Allah mengampuni dosa saya. Aamiin.

Anonim mengatakan...

Assalamu 'alaikum wrrahmatullaahi , wabarakaatuuhhh...

Dengan kerendahan hati abah yang bodoh ini ikutan nimbrung....jika salah menurut Allah Swt jangan digubris, sebaliknya jika benar mohon ditelaah agar praktek keislaman kita tetap bersih dari kotoran tambahan yang tak perlu......

Abah ingin bertanya hai saudaraku yang berpolemik tentang upacara tahlillan ini...."Berapa gerangan biaya yang dikeluarkan untuk upacara kematian dari ke-1,3,7,40, dst?
Camkan hai saudaraku seagama! Islam tidak memberatkan ummatnya, karena selain ada yang kaya lebih banyak lagi yang dhu'afa. Apalagi menambah-nambah agama itu sesuatu kesalahan besar....seakan-akan yang sudah ada (dicontohkan oleh Nabi Saw) belum sempurna!

Tahlil itu baik karena meg-Esakan Ilahi, tapi upacara Tahlilan buat orang mati yang ditentukan dengan angka 1-3-7 dan seterusnya itu, adalah milik agama di Asia tengah ribuan tahun yang lampau. Walhasil, kita mengaku muslim, tapi yang diamalkan adalah miliknya agama lain? Itu kan kekhilafan yang paling fatal yang telah turun-temurun!

Wassalaamu 'alaikum war wbrkth.

Abah Dedy

Anonim mengatakan...

Mohon dengan kerendahan hati agar tidak main-main dengan menambah-nambah (1-3-7-40-dst)agama kita yang telah lurus dan sempurna,dengan menggunakan seremonial agama lain yang memiliki makna bagi agama tersebut. Kendati diisi dengan tahlil, tetap saja Tahlilan itu falsafahya merupakan khurafat agama Asia Tengah yang pengaruhnya menyebar ke Indonesia.
Islam adalah agama lurus dan luhur, yang harus kita hargai kesempurnaannya. Oleh sebab itu, jika kita tambah-tambah lagi, berarti kita belum menganggap Islam itu sempurna.

Salam hormat dari Muslim yang masih bodoh!

hen k mengatakan...

Yang pastinya kalau mau tahlilan jangan melaksanakan krn menghitung hari 1,7, 40, dst krn hitungan hari tsb ajaran agama lain. lakukan tahlilan kapan saja.... kalau baca yasiin sebaiknya bukan bersama-sama karena tdk akan bisa menyimak benar atau tidaknya cara membacanya. Jadi tradisi yasinan diubah seperti tadarusan. Jadi membacanya secara satu-satu yang lain menyimak sehingga kalau ada kesalahan membaca bisa langsung diperbaiki. kan amal yang membaca dan mendengarkanya dengan baik juga mendapat pahala...

Poskan Komentar

Catatan David Usman Headline Animator

Followers