ADS 468x60

dvd

Pages

Pencarian Bing

Loading

19 Agustus 2011

Bermain-main dengan Logika Masyarakat

Entah apa yang ada dalam pikiran para pemimpin kita. Dengan percaya diri, seenaknya mempermainkan logika rakyat banyak. Layaknya sebuah permainan sepakbola, ketika penonton melihat terjadi offside tapi wasit menyatakan tidak. Atau ketika gol diciptakan dengan tangan Hands Ball. Tapi dengan cueknya wasit menyatakan sah... Hmm

Bicara korupsi yang menjadi makanan hari-hari. Sudah tidak aneh bagi masyarakat untuk menebak hingga kemungkinan terdekat. Masyarakat disuguhi masalah korupsi dari tingkat RT (rukun tetangga), RW, Kelurahan, Kecamatan, Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, hingga pejabat tinggi. Masyarakat, sudah berpengalaman... berpengalaman sekali!

Jadi bila anda seorang ketua RT minta biaya KTP seharga Rp. 350.000,- jangan bilang bahwa masyarakat bodoh tidak tahu seberapa seharusnya yang mereka keluarkan untuk membuat sebuah KTP. Atau bila anda seorang Polisi yang merangkap Calo di Samsat, dengan Rp. 450.000,- jangan pula anda berfikir bahwa masyarakat bodoh tidak tahu berapa yang seharusnya mereka keluarkan untuk membuat sebuah SIM!

Masyarakat sudah mahfum terhadap korupsi, yang memang telah mendarah daging! Masa bodo mungkin kata yang lebih tepat untuk sebuah korupsi yang tidak langsung meng-epek ke masyarakat. Silakan berkorupsi dan tanggung akibatnya sendiri! Yang penting gue gak rugi. Silakan korupsi, tapi jangan terlalu serakah!

Dan kasus Nazaruddin adalah sebuah "keserakahan besar" dari pemimpin-pemimpin korup di Indonesia, serta pemimpin-pemimpin yang berlagak bersih! Yang jelas masyarakat tidak bisa berdiam diri. Yang tidak mungkin masyarakat bilang ya sudahlah. Apalagi bila logika masyarakat dengan seenak dhewe dipermainkan. Logika yang sudah tak terbantahkan seperti 1 + 1 = 2 tidak perlu bilang bahwa bisa saja menjadi 3, 4 atau 100. Belum ngeh juga? Ini beberapa logika yang terpendam dan buat gregetan masyarakat:

Logika pertama. Sebuah korupsi tidak mungkin dilakukan sendiri. Anda akan membantah hal ini? Silakan. Tapi sejarah memang tidak pernah membiarkan korupsi berjalan sendiri. Semakin besar korupsi yang dilakukan, semakin banyak yang terlibat. Bahkan sebuah korupsi di RT saja paling tidak dilakukan oleh Ketua RT dan sekretarisnya serta orang yang "dikorbankan". Mau saya tuliskan lagi tentang siapa yang terlibat korupsi di instansi atau di kepolisian atau di kejaksaan atau di kehakiman? Rasanya tidak usah, semua juga tahu. Bahkan anda juga tahu kan? Intinya, tidak ada korupsi yang dilakukan sendirian!

Logika kedua, logika pertama (bahwa korupsi tidak mungkin sendirian) mengharuskan kita mengambil kesimpulan bahwa korupsi dilakukan oleh seseorang beserta atasannya yang memiliki wewenang atau sebaliknya dilakukan oleh seorang atasan yang memiliki wewenang bekerjasama dengan seorang yang menjadi bawahannya! Tidak mungkin bawahan melakukan sendirian, karena pasti ketahuan dan langsung di pecat. Atau tidak mungkin sang atasan melakukan sendirian dengan mengotori tangannya dari pembayaran yang tidak sah. Karena lebih mudah dan aman untuk memiliki seorang kurir yang bawahannya sendiri dan membagi "sedikit" hasil korupsi ketimbang menjatuhkan wibawanya sebagai atasan.

Logika ketiga. Bila terbongkar maka logika yang terjadi adalah "membagi" lagi jatah yang seharusnya dinikmati sendiri dengan orang lain sebagai "uang diam". Orang itu bisa atasan yang memiliki kedudukan lebih tinggi, atau rekan kerja/partai agar sama-sama diam, atau bisa juga kepolisian, kejaksaan, KPK dan siapa saja yang mungkin akan "menjadi masalah".

Logika keempat. Bila salah satu dari instansi atau orang yang di suap tidak mempan, maka bersiaplah mencari "kambing hitam" yang akan dikorbankan. Kadung sudah semua kebagian, tinggal kerjasama dengan pihak-pihak berwenang seperti Kepolisian, Kejaksaan, KPK dan instansi lain untuk "mengarahkan" kepada satu orang korban.

Logika kelima. Bila orang yang dikorbankan terlihat lemah dan tidak "iklas" untuk dikorbankan, maka disiapkan "pelarian" untuk sang korban! Sedikit bujukan ("yah paling lama 3 tahun ente berkorban, anak istri ane urusin"), dan membagikan sedikit "jatah" dengan imigrasi, bandara, kepolisian, KPK maka terbanglah si Korban ke luar negeri! Setidaknya, posisi aman hingga saat ini.

Logika keenam. Ketika korban sudah di "amankan", tinggal Kepolisian, KPK dan instansi berwenang lainnya "belagak pilon" ingin menangkap si korban! Sebenarnya, sampai disini posisi aman untuk semua pihak. Sekalipun sudah ditetapkan sebagai tersangka, korban tak mungkin untuk ditangkap. Tapi kejadian yang tidak sesuai skenario memaksa pemimpin korup untuk bertindak! Si kambing hitam yang merasa janji tidak dipenuhi, ngoceh tentang ini dan itu yang membuat panas kuping para pelaku yang terlibat. Memaksa atasannya yang terlibat menenangkan diri di kampung halaman dan membuat panik komplotannya untuk membantah setiap pernyataannya. Setelah si Kambing Hitam berkoar, maka harus dilakukan tindakan untuk menangkap si Kambing Hitam!

Logika ketujuh. Ketika si Kambing Hitam berhasil ditangkap, posisi dirasa aman untuk komplotan korup untuk keluar kandang dan mempersiapkan sasaran tembak pada satu orang atau beberapa orang yang dirasa "tidak penting-penting amat". Mulailah satu persatu membuat statement, konferensi pers guna membantah setiap pernyataan yang terlanjur diluncurkan si Kambing Hitam.

Logika kedelapan. Akhirnya, masyarakat akan dipaksa untuk mengakui satu pelaku korupsi saja. Ya, siapa lagi kalo si Kambing Hitam yang memang sudah dikorbankan!

Hmm... kita lihat saja apa logika masyarakat ini akan salah total atau benar sebenar-benarnya!

Wallahu'alam

Baca juga yang ini



1 komentar:

Prasetyo mengatakan...

Nice blog post brow.

Don't forget to visit me back, wokey !!!

Poskan Komentar

Catatan David Usman Headline Animator

Followers