27 June 2010

23 June 2010

Selebrity Politik, Politisasi Selebritas

Masih terbayang oleh saya ketika dengan semangat menggebu-gebu dua orang adik saya yang sudah menjalani pembinaan (Tarbiyah) mengusung bendera warna orange-hitam bergambar padi di tengah diapit oleh dua bulan yang saling bertolak belakang.

Semangat mereka, adalah semangat dakwah untuk mendudukkan ustadz-ustadz mereka, murrobi-murrobi mereka sebagai wakil yang mereka yakini Insya Allah Istiqomah dan tawadhu. Yang tidak goyah oleh godaan duniawi, dan hanya mengejar ridho Allah.

Waktu, mereka luangkan penuh untuk memperjuangkan berdirinya sebuah Partai yang mereka yakini akan jadi Partai yang "berbeda" dari partai lain yang juga mengusung ke-islaman. Apalagi cuma masalah harta! Bila perlu, berapapun uang di saku mereka keluarkan. Kampanye dan Demo-demo adalah saat bagi mereka untuk menginfakkan harta. Sangat beda, sangat ekslusif dengan partai-partai lain yang biasanya membayar peserta kampanye dan demo-demo.

Tapi apa dinyana, pengorbanan waktu, tenaga dan harta yang mereka luangkan hanya dibayar dengan "tidak sedikit" penyimpangan dari yang mereka harapkan. Orang-orang yang mereka harapkan duduk sebagai memperjuangkan nilai-nilai Islam telah disibukkan dengan urusan duniawi. Setiap receh yang mereka infakkan dibalas dengan penghamburan untuk sesuatu yang tidak berguna bagi umat. Penyewaan mobil mewah untuk kampanye, konsultan ini itu, dan tetek bengek lainnya.

Mereka terlihat "buncit" karena kekenyangan, tapi dibawah para kader dan simpatisan terlihat kurus karena harus kampanye dan mengumpulkan infak kampanye. Padahal, dengan sekali pencet tombol "send" lewat jarkom (jaringan komunikasi) maka para kader dan simpatisan sudah siap dalam barisan terdepan perjuangan.


Ekslusif dan Inklusif

Partai Kader

Dibangun dari pengajian-pengajian kecil (liqo), mereka membina kader-kader mereka. Setiap gerakan, setiap aktifitas dari kader tidak ada yang terlepas dari pengawasan dan penilaian. Kader yang menonjol, baik dari sisi loyalitas dan dakwah siap mereka "rekrut" untuk menjadi kader inti. Dan kader yang tidak loyal dan pengetahuan ke-Islaman yang rendah, akan tetap "memble" di bagian bawah dari piramida partai.

Demikianlah mereka memang pantas menyebut partai ini partai kader. Orang-orang terbaik dipilih dari bawah untuk diangkat sebagai orang yang mewakili partai! Dan mereka tetap menjalani pembinaan bertingkat hingga dari sekedar mengikuti liqo mereka menjadi murrobi lalu menjadi ustadz dan ulama.

Dengan pembinaan berjenjang, tidak salah bila kader dan simpatisan menjadi sangat loyal terhadap partai yang diusungnya. Karena mereka tahu siapa yang pilih, mereka sangat tahu apa yang terjadi bila orang-orang yang mereka tunjuk maju dan mewakili umat. Karena mereka memilih ustadz-ustadz mereka, murrobi-morrobi dan kader-kader yang telah teruji ahklaknya. Maka partai ini boleh bangga dengan menyebut sebagai PARTAI KADER!

Partai Dakwah

Mereka berusaha memajukan partai yang diharapkan jadi garda terdepan pembinaan umat. Dengan kerja nyata, mereka bangun posko-posko bantuan untuk menolong umat ditengah bencana dan kelaparan. Mereka infakkan sebagian harta untuk menolong sesama kader dan simpatisan yang mengalami kesulitan, sebagian harta yang lain mereka infakkan membantu umat Islam non kader dan non simpatisan. Sebagian harta mereka infakkan untuk membantu saudara-saudara muslim di negara lain, dan sebagian harta mereka infakkan untuk membangun partai.

Mereka masuk ditengah-tengah masyarakat lewat pengajian-pengajian. Mereka juga melakukan pembinaan lewat pos WK, dompet-dompet amal, dan lembaga-lembaga keagamaan lain seperti Amil Zakat, bantuan Sosial, dll. Mereka juga masuk ke sekolah-sekolah, ke kampus-kampus bahkan kantor-kantor dan institusi pemerintah. Maka mereka boleh bangga dengan julukan Partai Dakwah. Sebab segala aktifitas, tujuan perjuangan dan setiap segi ada keharusan dakwah untuk membina umat.

Mereka jadi Eklusif dan terlihat tertutup bagi sebagian orang. Padahal dengan Eklusifitasnya mereka serius membina yang sudah "terbentuk" dan tetap militan ketimbang berusaha mendapatkan yang belum "terbina" tapi rentan "selingkuh"; loncat sana, loncat sini.

Ketika Politik menjadi "Selebrity"

Kini, bolehkah mereka bangga dengan julukan Partai Kader dan Partai Dakwah?
Ketika kemenangan dalam quantitas menjadi tujuan, dan sedikit keluar dari jalur menjadi "tidak apa-apa" maka partai ini telah kehilangan identitasnya... sungguh mereka sudah kehilangan jalur dimana mereka seharusnya berjalan!

Ketika sebagian petinggi kader menjadi orang-orang "kaya mendadak" para kader dan simpatisan masih bisa berucap "wajar" dengan "hati dongkol", tetapi ketika pertunjukan-pertunjukan ala selebrities satu-demi satu dipertontonkan, adalah bodoh bila menganggap mereka tetap loyal. Karena mereka menjadi orang yang bimbang oleh tingkah laku selebrity politik.

Pembinaan kader jadi "boleh diabaikan" dengan masuknya orang-orang dari luar partai yang dianggap berjasa terhadap partai. Tak peduli bagaimana pendidikan keislamannya, semua boleh bergabung. Dan Adang Dorodjatun adalah sosok yang "beruntung" tanpa harus mengalami pembinaan demi pembinaan. Adang lolos sebagai sosok yang dianggap loyal oleh partai, tanpa peduli apakah Adang dan sosok lainnya dianggap loyal oleh kader dan simpatisan. Bila Inu Kencana masih harus ditolak dengan alasan sebagai partai kader, maka masih pantaskah partai ini mengusung yel-yel sebagai partai kader?

Dan mereka seperti tidak lagi berusaha untuk tetap Istiqomah, tetapi bagaimana menjaring suara yang sebanyak-banyaknya. Ritz Carlton adalah jendela yang terbuka lebar untuk itu! Kenapa? Dengan menyelenggarakan MUNAS di hotel mewah ini strategi untuk mendapatkan pemberitaan pers terbuka lebar! Mereka memang berhasil menjadikan politik sebagai "selebrity".

Bumbu yang kurang mereka tambahkan, lakon yang kurang segar mereka tambahkan lawakan. Lalu muncullah lawakan seperti Ariel dan Luna boleh bergabung dengan mereka. Masih kurang, tambahkan lagi penyedap berupa ide membuka jalur bagi non muslim. ... ada apa... denganmu...!!!

Tetap Loyalkah Para Kader mereka?

Beberapa pengamat baik dari luar dan dari dalam partai sendiri boleh saja yakin bahwa para kader mereka yang loyal tidak akan lari dari partai ini. Benarkah? Entahlah. Mungkin pembuktian itu masih harus dilihat di 2014.

Tapi bukalah mata! Berapa banyak kader yang terombang-ambing. Berapa banyak simpatisan yang mulai ragu. Bahkan, banyak dari kader dan simpatisan lari dari fiqrah mereka. Sebagian bergabung dengan jama'ah lain. Dan yang menyedihkan yang "kendur" bahkan melepas jilbab panjang mereka untuk menggantinya dengan jilbab pendek.

Perilaku tabarruj juga menjadi pertanda lemahnya greget dakwah. Dan sebagian lelakinya tak kuasa menghapus kebiasaan merokok. Tarbiyah yang dulu begitu getol hingga membentuk pribadi-pribadi yang unggul nyatanya hanya membentuk orang yang "biasa-biasa saja".

Sudahkan para petinggi partai ini mendengar keluhan dari arus bawah? Berapa banyak kader dan simpatisan harus menjadi "miskin" mengeluarkan infak kampanye lalu dihambur-hamburkan? Lalu dengan semangat ukhuwah mereka rela digaji kecil di lembaga-lembaga atau institusi di bawah partai ini, sementara petinggi partai menikmati tidur nyenyak bergelimang harta?

Kisah Nostalgia Itu...

Pada Pemilu 2009 lalu, beberapa teman yang getol memilih partai ini dari kalangan amah mengatakan kenapa ia memilih partai ini? Tidak lain adanya contoh dari dua anggota legislatif. Satu dari partai A dan yang lain dari partai ini. Anggota legislatif dari Partai A yang bertugas selama 5 tahun dari memiliki rumah gubuk kini telah memiliki Rumah Gede dengan luas beratus meter. Sedang dari partai ini setelah lima tahun rumah yang ia tempati tetaplah gubuk yang tidak memiliki perubahan berarti.

Inilah nostalgia itu, nostalgia yang para kader inginkan. Pengertian yang dalam, bukan berarti mereka tidak boleh kaya. Tetapi tetaplah peduli lingkungan, tetaplah istiqomah, tetaplah dalam jalan dakwah, dan tetaplah membina umat ini!

Kalah menang bukan tujuan!

21 June 2010

Sosok Misterius dalam Rumah

Ia, terlihat angker dengan ikat pinggang yang terselip di tangannya. Satu pukulan untuk satu raport merah, sampai lima pukulan untuk lima nilai raport merah. Jahat, itu yang terlintas tatkala ia menampakkan kekesalannya. Tapi begitu kami rasakan pukulan lembut itu dan jera yang membuat kami giat belajar, ia jadi sosok seperti pahlawan!

Ia, terlihat angkuh tatkala mengambaikan tangisan kami tatkala satu demi satu barang dirumah kami ia jual. TV, VHS, Kulkas bahkan sepeda kesayangan kami. Ia hanya berjanji akan membelikan barang yang lebih baik. Itupun baru terealisir lama setelah ia menjual barang itu. Ia begitu terlihat jahat! Tapi setelah kami tahu bahwa ia menjualnya demi membayar uang sekolah kami, buku-buku kami, ia jadi seperti sosok malaikat!

Ia, terlihat menyebalkan ketika beradu mulut dengan ibu kami. Entah ketika masalah keuangan mendera kami terutama ketika adik, kakak atau orang tuanya dibiayai dengan tanggung jawab penuh. Kini, baru kami tahu bagaimana rasanya tanggung jawab yang besar bagi seorang lelaki terhadap orang tua dan saudara perempuan. Ia, jadi seperti sosok guru!

Ia, terlihat egois saat menyuruh kami belajar. Apalagi saat ia memukul kami ketika kami meninggalkan sholat. Wajah garangnya jadi momok bagi kami. Kini, kami baru tahu bahwa ia hanya berusaha memberi pondasi yang kokoh bagi bekal kami.

Ia, adalah ayah kami. Yang terlihat tegar dihadapan kami tapi cengeng dibelakang kami.

Ia, adalah ayah kami. Yang bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan kami. Ia, terlihat kuat ketika bekerja tapi lemah ketika tubuhnya yang kelelahan dan berbaring lelah di pembaringan.

Ia, adalah ayah kami. Sosok misterius dalam rumah

20 June 2010

Video Porno Ariel Luna, Salah Siapa?


Kasus Video porno Ariel dan Luna maya, adalah bentuk kecerobohan dalam mengelola media penyimpanan data. Kasus ini seharusnya tidak terjadi bila saja mereka dapat mengantisipasi dengan kehati-hatian dalam menyimpan data.
Diluar tanggung jawab mereka (Ariel dan Luna) terhadap video porno yang menyebar, keteledoran dalam menyimpan data sebenarnya banyak sekali terjadi. Sebagai seorang teknisi komputer, saya banyak menemukan gambar-gambar bugil atau semi bugil dari konsumen baik yang melakukan perbaikan terhadap komputernya maupun penjualan. Beberapa saya dapatkan dari komputer yang di jual teknisi lain yang nota bene harddisknya sudah dianggap rusak, sehingga mereka pikir data tidak akan terbaca. Ironisnya, gambar-gambar bugil yang saya dapatkan tersebut adalah gambar istri-istri mereka sendiri!
Karena itu, berhati-hatilah dalam menyimpan data-data pribadi terutama di media penyimpanan data seperti harddisk dan memory card. Sebab, data yang anda anggap sudah hilang karena anda hapus atau medianya rusak bisa jadi (dan gampang saja) dikembalikan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman dalam bidangnya. Berikut tips untuk anda dalam menyimpan data dalam harddisk dan memory card agar tidak kecolongan yang mengakibatkan kerugian pada diri anda sendiri:
  1. Jangan menyimpan data pada media yang bisa diakses oleh publik, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Contoh bila anda menyimpan dalam memory handphone. Bisa saja, anda lupa mematikan fasilitas bluethoot yang akibatnya orang bisa mengakses. Atau bila apes, anda kehilangan handphone -seperti yang terjadi pada kasus Video porno Ariel dan Luna- maka data pribadi anda akan bisa tersebar.
  2. Bila anda menjual handphone atau komputer, jangan menganggap data yang ada dalam memory card dan harddisk anda yang sudah anda hapus sudah hilang, sekalipun dalam kondisi rusak data sangat mudah untuk dikembalikan dengan bantuan software dan keahlian teknisi. Bila anda orang yang biasa-biasa saja, mungkin tidak ada keperluan seseorang untuk berusaha mengembalikan data anda. Tetapi bila anda adalah seorang terkenal atau tenar, bisa jadi orang akan berusaha mendapatkan data pribadi anda dari sebuah komputer (harddisk) atau memory card. Jangan menyertakan memory card dan harddisk dalam menjual komputer sekalipun sudah rusak! Bila perlu memory card anda anda potong dan gunting menjadi beberapa bagian. Dan harddisk anda anda rusak dengan memukulkan palu hingga harddisk tidak berbentuk!
  3. Bila anda melakukan servis komputer dimana ada data pribadi anda yang tidak ingin diketahui orang lain, pastikan anda mendampingi teknisi hingga selesai perbaikan! Pastikan bahwa sang teknisi tidak melakukan aktifitas apapun yang berhubungan dengan penyimpanan atau pengcopyan data. Sekalipun data pribadi anda sudah anda hapus (atau anda hidden) atau harddisk anda rusak. Bila ada penggantian harddisk, simpan harddisk lama anda dan jangan ditinggalkan di tempat servis.
  4. Terakhir, sebagai saran tidak perlulah anda mendokumentasikan sesuatu hal yang pribadi yang akan merugikan anda sendiri dan orang lain. Bila tersebar, tentu saja akan mempengaruhi moral bangsa ini. Bukan soal sok suci, bila saya dan anda suka terhadap hal-hal semacam video porno Ariel dan Luna; akankah anda membiarkan anak anda atau generasi bangsa ini rusak oleh contoh-contoh buruk dari generasi sebelumnya? Bila anda perokok atau peminum, akankah anda membiarkan anak anda mencontoh anda karena anda melakukannya di depan mereka? pikirkan kembali, anak dan generasi ini adalah hasil didikan dan jerih payah kita yang akan menentukan nasib bangsa ini ke depan!
Demikian tips dari saya, semoga bermanfaat. Dan semoga kejadian seperti video porno Ariel dan Luna tidak akan pernah terjadi lagi!

06 June 2010

Kejahatan Sempurna, Rencana yang Sempurna

Sebuah kejahatan adalah tindakan yang merugikan orang lain atau merugikan suatu komunitas, bahkan lebih besar merugikan suatu bangsa atau ras. Kejahatan bisa berbentuk kecil, bahkan tidak sengaja. Tetapi kejahatan bisa besar dan terlihat sempurna.

Film-film produksi Amerika, yang umumnya di produseri kelompok Yahudi mengajarkan kita bagaimana sebuah kejahatan sempurna di rencanakan untuk kemudian dilakukan dengan sempurna.

Sebut saja cerita detektif seperti Sherlock Holm, atau James Bond. Bagaimana seorang penjahat merencanakan dengan sempurna suatu kejahatan. Rangkaian misteri dan teka-teki yang rumit harus diuraikan satu demi satu laksana benang kusut sebelum akhirnya terkuak pada ujung sebuah cerita.

Lihat juga cerita terorisme semacam Final Cut, tidak mudah untuk mencari siapa yang melakukan pemboman demi pemboman sampai diakhir cerita yang disimpulkan dilakukan oleh maniak penjinak bom dari sebuah divisi penjinak bom di kepolisian.

Akhirnya, lewat sebuah film kita tahu siapa yang memiliki imajinasi kuat untuk menjalin cerita demi cerita. Ya, akhirnya kita tahu siapa yang bisa merangkai dongeng yang sempurna untuk melakukan kejahatan - bahkan ketika kejahatan itu dilakukan di depan mata -.

Media massa, terlalu sempurna untuk menutupi sebuah kejahatan. Dan media massa, terlalu sempurna untuk mencari seorang kambing hitam untuk dijadikan korban! Dan orang yang terlalu malas untuk mencari kebenaran akhirnya terjebak dalam cerita dusta yang gencar disebarkan. Atau orang yang dalam dirinya memiliki benih-benih kebencian akhirnya bisa tunjuk hidung siapa orang yang harus di salahkan.

Kejahatan sempurna memiliki rencana sempurna, dan kejahatan sempurna dilakukan dengan sempurna pula. Jadi bila dalam sebuah hantaman pesawat ke sebuah gedung WTC ditemukan sebuah buku petunjuk cara menerbangkan pesawat, tampak seperti omong kosong yang tak berisi. Sebab, dengan kejahatan sempurna semacam itu sudah pasti mereka mempersiapkan penerbang-penerbang terbaik dan melalui pelatihan terbaik.

Bagaimana dengan terorisme di Indonesia? Mereka seperti orang bodoh yang bahkan tidak mengerti bagaimana meledakkan, lalu menghilangkan jejak, menyimpan barang bukti, merangkai cerita, menyamar atau bersembunyi lalu mencari kambing hitam!

Dan bukti ketidaksempurnaan rencana mereka adalah Pemerintahan George Bush dan Pemerintahan di Indonesia bisa menunjuk hidung siapa dalang dibalik kejahatan itu hanya dalam waktu dua hari sejak kejadian! Luar biasa!

Jadi, rasanya bukan kejahatan itu yang sempurna! Tapi cara Bush dan Pemerintahan Indonesia yang mengemas cerita dan bukti pembenaran yang rapi dan sempurna. Dengan dukungan Media Massa, wawancara dengan pengamat ini dan itu, mengarang cerita yang sempurna, lalu ditutupi dengan sempurna!

Sungguh rencana yang sempurna dari kebaikan (atau kejahatan?) yang sempurna!