18 March 2010

Segelas Kopi, Sebatang Rokok


Segelas kopi, sebatang rokok... hmm indah beneer! Pagi, adalah saat terindah bagi aku untuk menikmati setiap teguk kopi, dan hisapan rokok sambil melakukan aktifitas santai seperti membaca koran, browsing, surfing, atau menonton berita di TV. Berani taruhan, orang yang menikmati dua hal itu; kopi dan rokok bukan hanya aku seorang. Banyak orang diluar sana yang merasakan nikmatnya sepasang kekasih yaitu rokok dan kopi di waktu paginya, bahkan di sore dan malam hari...

Yang bukan perokok, boleh saja bilang "apa enaknya?" tapi pagi, memang boleh dinikmati dengan cara apa aja. Bagi yang bukan perokok, boleh saja bilang lebih enak melewati pagi dengan senam pagi dan bersantai bersama keluarga. Yang bukan perokok boleh saja bilang bahwa rokok bawa penyakit, banyak mudhorotnya dan bla bla bla. Tapi ... who care!

Sampai pada suatu pagi dengan sepasang kekasihku, aku mendengar berita sebuah fatwa haram rokok! Weitt... rokok haram? Aku yang sedang asyik dengan sebatang rokok yang tinggal setengah itu seperti hampir melompat mendengarnya! Aku besarkan suara TV untuk mendengar berita dengan lebih jelas! Rokok haram? wah... wah... aya aya wae, pikirku. Kenikmatan dunia yang tiada taranya yang aku nikmati setiap pagi dan sepanjang hari itu haram? Aku memandang rokokku... agak termenung aku. Sementara rokokku tinggal seujung yang hanya bisa diisap satu kali! Aku pandangi lagi rokokku... buang... tidak... buang... tidak... hmm who care... ucapku, sambil melakukan hisapan terakhir dari rokokku sebelum akhirnya jadi puntung. Tak lupa, aku menyeruput kopiku, yang juga tetesan terakhir... who care!

Dan hebohlah hari itu. Perbincangan hangat di mana-mana. Televisi, koran, di warung kopi, di jalan, di bioskop, di pasar, di internet, pokoknya semua tempat. Dan umumnya suara keras yang ku dengar adalah cemoohan terhadap lembaga yang mengeluarkan fatwa itu. Mungkin aku termasuk salah satu yang tidak setuju, tapi dengan cemoohan orang-orang terhadap sebuah lembaga Islam yang sepatutnya dihormati, aku merasa miris juga (sekalipun tidak ada hubunganku dengan lembaga itu). Bagaimanapun, bila seorang "bodoh" saja harus kita hargai pendapatnya, apalagi sebuah lembaga Islam yang mencurahkan segenap waktu dan pikirannya untuk kebaikan umat!

Aku lebih memilih untuk memisahkan diri dari perbincangan hangat tentang haram dan tidaknya rokok. Dan aku lebih memilih untuk menyendiri mempertimbangkan masalah itu, aku ingin berpikiran jernih. Mungkin agak lucu, aku mempertimbangkan itu dengan sebatang rokok ditanganku!

Tidak satupun manusia di muka bumi ini yang menentang pendapat tentang bahaya yang ditimbulkan rokok. Karena itu, aku abaikan tentang bahaya rokok itu dalam pertimbanganku. Karena akan jadi lucu, ketika aku merokok dengan tahu bahayanya dan aku memilih mengambil resikonya tapi sekarang aku pertimbangkan lagi! Tidak... tidak ...

Tapi aku lebih tertarik tentang keberanian pengharaman rokok! Kenapa mereka berani ya? Lalu aku teringat tentang pembahasan masalah rokok ini pula oleh MUI. Saat itu, terjadi perdebatan panjang tentang pengharaman rokok. Dan lewat pertimbangan, diputuskanlah bahwa rokok itu makhruh! Tapi bila diperhatikan, hampir semua elemen Islam mengharamkan rokok. Termasuk elemen Islam yang menjadi panutanku. Tapi entah karena kalah suara, atau pertimbangan lain maka hukum makhruh yang keluar. Padahal dalam segi kuantitas individu di MUI, mungkin lebih banyak yang tidak setuju rokok haram. Tapi dalam kuantitas lembaga, huff... nampaknya hampir semua lembaga mengharamkan! Jadi ...

Di tambah pula, sepertinya tidak fair bila keputusan tentang makhruhnya rokok di bahas serta dukung oleh ulama-ulama yang perokok! Karena keputusannya bisa jadi bukan karena umat, tapi karena kepentingan pribadinya. Lagi pula, ada hal yang aneh bagiku bila seorang ulama atau ustadz melakukan hal yang makhruh! Bila seorang biasa mungkin hal makhruh bisa dimaklumi. Tapi untuk seorang ulama atau ustadz? Bukankah ada tingkatan iman dimana tingkat iman paling rendah adalah orang yang bisa meninggalkan yang haram. Tingkatan kedua, adalah orang yang bisa menjauhi yang makhruh (tingkatan ini paling tidak yang harusnya di tempati para ulama dan ustadz), dan tingkat paling tinggi dimana orang mengurangi yang halal (seperti mengurangi makan, tidur untuk lebih banyak beribadah) ...

Lagi pula, dengan gayaku yang cuek dengan rokok yang setiap waktu kuselipkan ditangan serasa menjauhkanku dari teman-teman satu pengajian. Bukan karena mereka yang menjauh, tapi karena aku suka risi sendiri harus berkumpul dalam majelis yang orang-orangnya tidak merokok!

Huff, tampaknya aku harus pertimbangkan untuk berhenti! Aku memperhatikan rokok yang tinggal hisapan terakhir di tanganku. Buang... tidak... buang... tidak... dan aku berhasil membuangnya!

Bismillahirrahman nirrahim. Dengan mengucap nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, semoga aku dikuatkan niat untuk menghentikan kebiasan ini...

Share this

4 Comments to "Segelas Kopi, Sebatang Rokok"

Post a Comment