15 March 2010

Sarjana Ideal dari Perguruan Tinggi ldaman

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
'Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban

Termenung lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang di harapkan
Tergiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan

Tak peduli berusaha lagi
Namun kata sama yang kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s'makin terlihat


Itulah sepenggal bait dari lagu Iwan Fals yang berjudul Sarjana Muda. Bukan sembarang Iwan Fals menulis lagu tentang seorang Sarjana yang kelimpungan mencari kerja. Tapi itulah fakta yang banyak terjadi pada banyak sarjana yang setelah lulus bingung mau berbuat apa!

Seseorang yang meneruskan kuliah pada sebuah Perguruan Tinggi tentu bermimpi indah tentang sebuah posisi kerja yang baik. Bayangan sebuah Manager atau Profesional Muda dengan jas dan dasi dan rapat-rapat ala Direksi adalah mimpi yang "ingin dibeli" (lagi, istilah Iwan Fals). Begitu pula impian orang tua yang menyekolahkan dan membiayai anaknya.

Tapi apa daya, Perguruan Tinggi tidak melulu melahirkan sarjana-sarjana siap kerja dan siap usaha. Dengan persaingan yang begitu ketat, banyak sarjana yang akhirnya terpaksa "meyingkir". Jadi pengangguran, atau paling "top" menjadi pegawai "kontrak".

Perguruan Tinggi Idaman

Perguruan Tinggi idaman tentunya Perguruan Tinggi yang mampu menjamin masa depan Mahasiswanya setelah berhasil menyelesaikan kuliah. Dengan begitu, apa yang diimpikan oleh seorang Mahasiswa dan keluarganya bisa terealisir dengan baik. Untuk menjamin masa depan Mahasiswanya ini, Perguruan Tinggi harus bisa menghasilkan sarjana-sarjana yang "Siap Kerja" dan "Siap Usaha". Dan untuk hal ini, tentu saja Perguruan Tinggi harus memiliki program kerja yang membuat Mahasiswanya siap memenuhi kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha.

Lalu apa yang dibutuhkan dunia kerja dan dunia usaha? Pertama jelas kemampuan di bidangnya. Untuk itu, Perguruan Tinggi harus memiliki tenaga pengajar dan silabus yang baik. Selain itu fasilitas pendukung sebuah Perguruan Tinggi juga harus memadai seperti Laboratorium, Studio, Bengkel, dan lain-lain. Dengan demikian akan dihasilkan Mahasiswa-mahasiswa yang qualified di bidangnya.

Kedua, pendukung utama saat ini yaitu kemampuan bahasa dan komputer adalah mutlak diperlukan. Dibeberapa Perguruan Tinggi yang menyadari perlunya kemampuan bahasa ini, sudah menerapkan aturan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib di lingkungan Kampus. Baik dalam berkomunikasi antara Dosen dan Mahasiswa, juga dalam obrolan sehari-hari antar Mahasiswa di lingkungan Kampus. Begitu juga kemampuan Komputer harus pula di dukung dengan Laboratorium dan fasilitas Hot Spot di lingkungan Kampus. Ada hal menarik ketika saya membuat sebuah Hot Spot di sebuah Restoran, pemiliknya menjelaskan bahwa Hot Spot ini digunakan untuk menarik siswa-siswi dari sebuah sekolah yang mewajibkan siswa/siswi nya untuk memiliki Laptop! Jadi, bila siswa/siswi dari sebuah sekolah setingkat SMU saja sudah begitu familier dengan komputer dan teknologinya, rasanya aneh bila seorang Mahasiswa malah ketinggalan zaman.

Ketiga, pendidikan kepribadian. Ini yang sering diabaikan oleh sebuah Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi selayaknya menghasilkan Mahasiswa-mahasiswa dengan kepribadian yang baik. Kepribadian ini menyangkut masalah-masalah:

1. Disiplin

Mahasiswa seharusnya telah dididik untuk disiplin, sehingga Mahasiswa dapat menghargai waktu dan menghargai aturan. Kita banyak melihat, bagaimana masalah kedisiplinan ini kurang mendapat tempat dalam sebuah Perguruan Tinggi. Mahasiswa, dapat seenaknya masuk kuliah jam berapapun mereka mau, telat mengikuti kuliah adalah hal biasa.
Dalam dunia kerja, masalah disiplin terhadap waktu dan aturan yang berlaku adalah hal wajib untuk bertahan dan mencapai posisi puncak. Bisa kita lihat berapa banyak karyawan yang di pecat karena tidak disiplin terhadap waktu dan aturan. Kedisiplinan bisa diterapkan secara tegas terhadap Mahasiswa dengan menepati waktu dan mentaati aturan. Penerapan ini bila dilanggar bisa diberikan sangsi tegas terhadap Mahasiswa. Dan tentunya dengan terbiasanya Mahasiswa dengan kedisiplinan, akan membawanya pada sikap ini di setiap tempat dan waktu, sebagaimana juga yang telah diterapkan oleh pendidikan-pendidikan militer dan semi militer.

2. Kemampuan Komunikasi

Mahasiswa seharusnya juga terbiasa berkomunikasi secara baik. Lihatlah berapa banyak Mahasiswa tidak terbiasa berkomunikasi dengan baik. Banyak melakukan diskusi dalam tiap kuliah, dan session tanya jawab seharusnya diperbanyak ketimbang mengajarkan dengan bentuk teks book yang membuat Mahasiswa tumpul dalam komunikasi.

3. Penampilan

Penampilan juga menjadi hal yang penting. Ada yang aneh ketika suatu waktu saya melihat seorang Mahasiswa kuliah hanya dengan menggunakan sandal jepit dan penampilan yang "awut-awutan". Mahasiswa, harusnya memiliki seragam yang disesuaikan dengan profesi dimana ia akan ditempatkan. Contoh, sebuah Perguruan Tinggi jurusan atau program studi Sekretaris, seharusnya terbiasa dengan seragam atau pakain seorang sekretaris. Begitu pula seorang calon Arsitek, Dokter, Sarjana Hukum yang seharusnya dibiasakan dengan penampilan dan union yang disesuaikan dengan tempatnya bekerja selesai kuliah. Hal ini sudah dipraktekkan pada salah satu Perguruan Tinggi Favorit Indonesia dengan penggunaan jas pada setiap Mahasiswanya yang mengikuti kuliah.
Kebebasan penggunaan pakaian dan penampilan, hanya akan membuat Mahasiswa terlihat canggung ketika harus berhadapan dengan profesi yang dilibatkannya.

Keempat, dan terakhir dari tulisan ini, Perguruan Tinggi selayaknya memiliki backing sebuah atau beberapa buah Perusahaan. Dengan kata lain, kerjasama antara Perguruan Tinggi dan Perusahaan-perusahaan wajib diperlukan. Pada Perusahaan inilah dimana Mahasiswa bisa melakukan Kerja Praktek yang sebenarnya untuk bekal pengalamannya. Lebih jauh lagi, Perusahaan ini bersedia menampung lulusan-lulusan Perguruan Tinggi. Konsekuensinya, Perguruan Tinggi harus memiliki Mahasiswa-mahasiswa dengan kualifikasi tertentu. Hal ini telah diterapkan oleh beberapa Perguruan Tinggi. Tentunya dengan kerjasama ini, tidak hanya menguntungkan bagi Perguruan Tinggi, tetapi juga bagi Perusahaan.

Demikianlah sebagian ide atau pikiran yang dapat saya tuangkan. Semoga kedepan, Perguruan Tinggi tidak hanya menghasilkan banyak lulusan tetapi juga banyak menghasilkan Sarjana-sarjana Siap Kerja dan Siap Usaha. Sehingga Perguruan Tinggi semacam ini menjadi Perguruan Tinggi Idaman, bukan hanya bagi Mahasiswa, tapi juga bagi dunia kerja dan dunia Usaha. Semoga saja fenomena seperti yang dituangkan Iwan Fals dalam lagunya itu tidak lagi terjadi.

Share this

0 Comment to "Sarjana Ideal dari Perguruan Tinggi ldaman"

Post a Comment