ADS 468x60

davidusman.blogspot.com

Pages

Slidershow

17 June 2014

Penyebab Runtuhnya Bangunan dalam Tahap Pengerjaan

Akhir-akhir ini setidaknya ada dua bangunan yang runtuh atau ambruk pada saat pengerjaan. Gedung pertama yaitu sebuah stadion di Koja, Jakarta. Dan yang kedua sebuah ruko di Menado.

Tentu menjadi sebuah pertanyaan bagi kita? Bagaimana sebuah bangunan yang direncanakan dengan baik, bisa hancur pada saat pembangunan dilaksanakan.

Ada beberapa pihak yang terkait dalam pembangunan sebuah gedung. Pertama; Owner atau pemilik bangunan. Pemilik bangunan ini adalah pemilik modal atau pengguna bangunan. Kedua; Arsitek atau perencana bangunan. Arsitek merancang bangunan sesuai keinginan pemilik modal.

Ketiga; Perencana Struktur. Perencana struktur membuat dan mendisain struktur bangunan sesuai dengan desain bangunan, kondisi lahan dan teknologi yang ada.

Keempat adalah pengawas dan pelaksana; pengawas dan pelaksana ini bertugas memastikan bangunan yang dikerjakan sesuai gambar dan jadwal, sesuai spesifikasi, dan mengambil keputusan lain di proyek.

Dan terakhir, tentu para pekerja proyek yang terdiri dari mandor, kepala tukang, tukang dan kenek.

Pada bangunan seperti stadion dan ruko ini, jelas  bahwa kelas bangunan yang dikerjakan termasuk katagori sederhana sampai dengan sedang dalam skala proyek. Kerumitan pekerjaan dan struktur juga termasuk sederhana. Oleh karena itu, tanpa bermaksud membela siapapun, maka menurut saya sebagai seorang Arsitek yang melaksanakan pembangunan gedung setipe atau sekelas bangunan tersebut, kita bisa mengabaikan faktor perencanaan. Baik perencana desain atau Arsitek, maupun Insinyur Sipil.

Pengalaman saya dalam hal ini, Teknik pengerjaan di lapangan perlu diperhatikan dengan tepat. Pengawas dan pelaksana harus benar-benar mengerti gambar dan kondisi lapangan. Dan para Insinyur, setidaknya mereka perlu mengadakan pengawasan juga ke lapangan guna mengindari kesalahan pelaksanaan.

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yang bisa membuat bangunan yang dalam tahap pengerjaan runtuh atau ambruk:

1. Target waktu

Target waktu adalah hal yang paling sering membuat pekerja, pengawas dan pelaksana banyak melakukan kecerobohan. Hendaknya meski setiap proyek pasti memiliki progres, target waktu harus dibuat sesuai standar dan masuk akal.

Owner, atau pemberi tugas harusnya tidak tergesa-gesa dan mendesak pengerjaan kelar secepat mungkin. Dan para pembuat progres juga harus mempertimbangkan benar-benar sesuai desain, bahan, kondisi lapangan, dll.

2. Kekuatan Stut dan bekisting

Stut, atau penyangga dan bekisting adalah faktor utama untuk membentuk struktur bangunan. Sebagai penyangga terutama saat pembetonan, fungsi tiang-tiang dan rangka ini berpengaruh besar pada keamanan pengerjaan. Jika kurang kuat, baik karena jumlah maupun kualitas bahan maka nukan tidak mungkin kecelakaan terjadi pada saat pengerjaan cor beton.

3. Faktor kebekuan beton

Beton kita ketahui akan membeku atau mengering sempurna di umur 3 minggu sejak penuangan. Pada proyek-proyek kejar tayang, bisa saja lebih cepat dari itu dengan menggunakan obat tertentu.

Nah, disinilah masalahnya, terkadang, karena mengejar waktu dan menghemat biaya, beton yang belum kering sempurna dibuka bekistingnya pada saat belum waktunya. Ditambah lagi pembebanan pada bagian atasnya, jika masih ada lantai berikutnya.

4. Pengetahuan tentang struktur

Pengetahuan tentang struktur, perlu dipahami bukan hanya oleh insinyur, pengawas dan pelaksana. Tapi juga harus dipahami oleh mandor dan tukang di lapangan.

Jika tidak, maka kejadian yang berakibat ambruknya bangunan mungkin saja terjadi. Pengetahuan seperti pembesian, extra besi untuk tumpuan dan lapangan, penyambungan, kualitas beton sampai pada kekentalan cairan beton perlu diketahui. Dengan demikian, maka tukang dapat bekerja maksimal untuk mengurangi kerusakan pada bangunan

Demikian analisa sederhana saya, mudah-mudahan berguna.

15 May 2014

Memaknai Kerusakan Alam dengan Konsep Green Building

 
Kultwit dari @dapitdong


Green Building, hmm... coba saya terjemahkan dari sudut pandang saya ya? Yang mungkin beda, mungkin juga salah makna...

Manusia punya kerinduan. Alam adalah asalnya, gedung adalah creasinya. Bosan mengacak-acak pola, membuat kerinduan pada manusia

Rindu pada hijaunya dedaunan. Rindu pd embun di rerumputan. Rindu sinar mentari yang penuh kehangatan dan kicauan burung yg hinggap di dahan

Ruang, disuguhkan oleh alam. Dulu manusia menciptakan ruang sesuai keperluan. Sekarang, manusia menciptakan ruang untuk mendapatkan uang

Dulu, manusia menciptakan ruang sesuai fungsi, sekarang manusia menciptakan ruang agar berfungsi...

Inilah pangkal terjadinya revolusi arsitektur... industrialisasi, kapitalisme dan urbanisasi memaksa manusia mengabaikan segalanya!

Ruang (baca:bangunan) berlomba-lomba menghabiskan lahan. Ruang, berlomba-lomba menang ketinggian.

Keserakahan, membuat kita menyingkirkan beberapa habitat hewan dan tumbuhan. Kita juga memusnahkan beberapa ekosistem dan rantai makanan...

Lalu dgn kerusakan itu, kita berbangga pd teknologi yg kita punya. Panas kt akali dg Air Conditioner, Gelap kita akali dg lampu puluhan Watt

Meski terlambat, timbulah konsep yang bersahaja itu; "Green Building". Sayangnya, tidak semua Arsitek dan perencana kota punya persepsi sama

Ada yg dg semangat membara meng-klaim "Green Building" padahal hanya menempelkan pot bunga di depan jendela...

Ada yg ngaku "Green Building" tapi AC harus menyala sepanjang masa. Lampu harus terus nyala utk menuntun mata

Padahal "Green Building" adalah integrasi dari banyak hal! Green Building adalah ruang ciptaan yang berteman dg ruang alam

"Green Building" juga meminimalisir energi buatan yang harus digunakan. "Green Building" juga membantu beban mengurangi efek rumah kaca

Dan membagi ruang utk hidup bersama. Dg burung2 yg hinggap di dahan, dg ulat2 di dedaunan, dg rumput hijau, dg air, dg tanah, dg langit...

"Green Building" mencoba berbaikan dg alam yg terlanjur sakit hati. Juga mencoba tobat memperbaiki diri...

Bersyukurlah manusia, meski malu-malu, alam masih bisa dirayu...

Tinggal niat dan kesungguhan hati, bukan basa basi, bukan setengah hati.

Bukan dg menambah kerusakan lewat reklamasi dan eksplorasi. Ruang dan alam perlu interaksi dan permisi... Begitu kira2 kita hrs memaknai...

02 May 2014

Seharusnya... Ada Etika di Antara Kita

Pasca krisis ekonomi tahun 1998, perkembangan usaha kecil dan menengah mengalami lonjakan besar-besaran. Toko-toko pinggir jalan di isi oleh pengusaha-pengusaha dadakan, hasil dari anjloknya perekonomian yang mengakibatkan banyaknya pengangguran dari PHK masal oleh Perusahaan-perusahaan besar.

Munculnya pengusaha dadakan ini tentu menggembirakan, sebab selain membantu Pemerintah dalam mengatasi pengangguran, juga membantu menggerakkan roda perekonomian yang sempat mandek pada waktu itu.

Tapi perkembangan ini tidak melulu membuat perubahan positif, tetapi juga dampak negatif yang diakibatkan karena overgrowth usaha-usaha kecil dan menengah pada waktu itu. Pada akhirnya, teori-teori usaha banyak yang tidak dipedulikan, dan etika-etika bisnis banyak dilanggar. Yang akhirnya, menyulitkan pengusaha-pengusaha itu sendiri. Bisa saya sebutkan beberapa hal disini:

Persaingan Harga

Persaingan harga adalah hal terparah yang terjadi. Karena banyaknya usaha-usaha sejenis, membuat pengusaha harus membanting harga agar barang dan jasanya laku atau digunakan. Dengan jenis barang yang sama misalnya, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang termurah. Begitu pula jenis usaha jasa, berusaha meminimalisir harga jasa dan keahlian yang mereka miliki.

Jelas ini merupakan hal yang tidak sehat. Pada beberapa pengusaha yang memiliki modal pas-pasan, tentu akan mati usahanya dalam beberapa bulan atau paling lama setahun. Sebab keuntungan yang mereka dapat tidak sebanding dengan pengeluaran yang terjadi. Sebab mengambil keuntungan kecil hanya bisa dilakukan dengan stok barang yang besar atau partai. Sedang bermain pada level eceran tentu akan menyulitkan mendapat untung maksimal.

Pada usaha jasa, persaingan membuat beberapa jenis usaha jasa mengabaikan beberapa item pelayanan kepada konsumen. Entah itu garansi atau jaminan jasa, kealian yang sekedarnya dan pelayanan lain yang harus dikalahkan demi meminimalisir harga jasa agar bisa bersaing.

Distribusi

Ada etika dalam usaha, bahwa pengusaha besar (atau Industri) tidak bisa bermain pada level bawah (eceran). Kalau diurutkan maka bagan - nya  akan menjadi kira-kira begini: Industri - Distributor - Supplier - Pengecer. Ini adalah sebuah alur yang seharusnya menjadi prinsip yang tidak boleh dilanggar oleh pengusaha dalam menjalankan usahanya.

Tapi dunia usaha kita telah banyak melakukan penyimpangan demi keuntungan pribadi. Contoh mudah adalah mini-mini market yang banyak betebaran hingga ke pelosok-pelosok perkampungan. Tetapi sebagian Industri pun sudah mempersiapkan sales-sales yang sasarannya langsung memasarkan produk mereka ke pengecer.

Padahal, keuntungan yang mereka dapat dengan sistem "potong jalan" ini hanya akan bertahan sementara waktu, pada kelanjutannya akan menyulitkan mereka sendiri. Sebab, mereka akan butuh banyak pengeluaran untuk membayar sales-sales mereka. Sementara bila membiarkan sistem distribusi berjalan apa adanya, distributor atau supplier akan datang sendiri membantu mereka menjual produk nya.

Penipuan

Penipuan adalah efek dari kedua hal di atas. Dengan semakin sulitnya mencari keuntungan, maka pengusaha berusaha menekan modal demi mendapat keuntungan besar.

Penipuan bisa berupa penjualan barang dengan kualitas KW, Refurbis, Rekondisi atau istilah PI dengan harga baru. Atau setidaknya, tidak memberi tahu konsumen akan istilah-istilah yang jarang dimengerti konsumen itu. Silakan lihat disini untuk mengerti istilah tersebut (http://bloggerbekasi.com/2010/02/26/refurbish-tray-dan-rekondisi.html).

Contoh lain, pada usaha jasa adalah dengan membohongi konsumen terhadap item yang harus dikerjakan atau diperbaiki. Hal ini dilakukan demi mendapatkan keuntungan lebih besar dari jasa yang dikeluarkan.

Itu beberapa hal, ada banyak hal mungkin tetapi tidak bisa saya identifikasi karena keterbatasan saya. Yang jelas, hal tersebut sangat terasa mengganggu bagi usaha-usaha yang seharusnya tumbuh membantu perekonomian bangsa yang rapuh ini.

Karena pada akhirnya, kepercayaan konsumen akan runtuh dan usaha akan semakin mempersulit dirinya sendiri.

Solusinya? Perlu forum atau persatuan diantara pengusaha sejenis untuk menyatukan pandangan soal barang dan jasa yang akan dilempar pada konsumen. Dengan forum atau persatuan ini, pengusaha bisa membuat peraturan-peraturan diantara mereka baik soal harga, pelayanan dan syarat lain yang melindungi mereka dan konsumen.

Pada pemerintah, perlu membimbing usaha-usaha kecil dan menengah baik dalam hal permodalan, deregulasi dan pembinaan.

Dan ujung-ujungnya, adalah pada pengusaha itu sendiri. Pengusaha harus menjunjung tinggi etika bisnis di antara mereka...


David Usman 


Di Beli Limbah Komputer dan Elektronik

Anda Punya Barang Komputer dan Elektronik yang Rusak/Jadul/Terbakar/Terendam Banjir yang tidak terpakai? Tenang saja, disini barang tersebut masih kami hargai. Kilik link di Gambar untuk keterangan lebih lanjut...

Catatan David Usman Headline Animator

Followers